Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News
WEB UTAMA

Filosofi Barongsai, Lebih dari Sekadar Tarian Tradisi Imlek

Jakarta : Barongsai identik dengan perayaan Imlek dan selalu menjadi tontonan khas yang menarik perhatian masyarakat. Tarian singa ini kerap hadir di pusat perbelanjaan serta ruang publik sebagai simbol kemeriahan tahun baru.
Singa barongsai yang identik dengan perayaan imlek (Foto: Instagram/longqingindonesia)

Dilansir dari laman Indonesia Kaya, barongsai digambarkan melalui atraksi dua singa yang bergerak lincah energik. Gerakan melonjak, berdiri dua kaki, serta iringan drum simbal menciptakan suasana riuh penonton di lokasi.

Barongsai merupakan tarian tradisional Tiongkok menggunakan kostum menyerupai singa yang sering disalahartikan naga oleh penonton. Kesenian ini terbagi menjadi barongsai utara dan selatan dengan ciri fisik serta gerak berbeda khas.

Atraksi barongsai menuntut kekuatan, kecepatan, keseimbangan, serta koordinasi kaki dan tangan para pemain profesional terlatih. Gerakannya berpadu antara unsur tarian, bela diri, dan akrobatik mengikuti ritme musik pengiring tradisional Tiongkok.

Tarian barongsai memiliki pola dasar tertentu seperti tidur, membuka, bermain, hingga penutup menurut kajian akademik. Selain itu terdapat gerakan lay see berupa singa memakan amplop merah berisi uang simbolik keberuntungan.

Asal-usul barongsai dikaitkan dengan legenda penolak bala serta penjaga dari roh jahat dalam kepercayaan masyarakat. Sejumlah ahli menyebut tradisi ini berakar sejak Dinasti Chin dan populer masa Nan-Bei di Tiongkok.

Tradisi barongsai masuk Indonesia bersamaan migrasi masyarakat Tiongkok pada sekitar abad ketujuh belas masehi tersebut. Istilah barongsai merupakan gabungan kata barong dari Jawa dan sai bermakna singa dalam dialek Hokkian.

Dalam praktiknya barongsai erat dengan kelenteng dan ritual keagamaan masyarakat Tionghoa di berbagai wilayah Indonesia. Sebelum pentas dilakukan ritual khusus agar pertunjukan lancar serta memberi keselamatan pemain dan restu dewa.

Makna religius barongsai menempatkannya sebagai penghubung manusia dengan alam gaib sakral dalam tradisi Tionghoa klasik. Perkumpulan barongsai dahulu berada di bawah naungan kelenteng dan organisasi komunitas masyarakat Tionghoa lokal setempat.

Sempat meredup era Orde Baru, barongsai kembali berkembang setelah reformasi bahkan dipertandingkan secara nasional internasional. Kini barongsai hadir sebagai seni hiburan komersial di ruang publik sekaligus tetap lestari bagi masyarakat.(*)

Hide Ads Show Ads