IHSG Ditutup Turun 7,35 Persen Akibat Kebijakan MSCI
Jakarta : Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 7,35 persen atau 659,67 poin dalam penutupan perdagangan hari ini. Sehingga IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) berada di level 8.320,55.
Sebanyak 753 saham harganya turun, 37 saham harganya naik dan 16 saham stagnan. Seluruh sektor mengalami penurunan, yang turun paling dalam adalah sektor infrastruktur sebesar -10,15 persen.
“IHSG rontok karena tekanan jual saham setelah pengumuman MSCI. MSCI memutuskan untuk membekukan sementara proses rebalancing indeks untuk saham-saham di Indonesia,” kata Tim Analis Phintraco Sekuritas, Rabu, 28 Januari 2026.
MSCI juga membekukan sejumlah perubahan terkait indeks review bulan Februari 2026. Pengumuman MSCI menimbulkan syok di pasar, sehingga BEI sempat menghentikan sementara perdagangan (trading halt) selama 30 menit.
‘Trading halt’ dilakukan karena IHSG turun hingga 8 persen pada sesi kedua perdagangan. BEI melanjutkan kembali perdagangan pada pukul 14:13:13 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS).
Terkait keputusannya, MSCI memberi waktu bagi otoritas pasar untuk melakukan perbaikan transparansi kepemilikan saham yang signifikan. Jika hingga Mei 2026 tidak akan kemajuan yang signifikan, MSCI akan meninjau ulang status aksesibilitas pasar Indonesi.
Hal itu menurut Tim Phintraco, berpotensi pada penurunan bobot saham Indonesia di MSCI Emerging Markets menjadi Frontier Market. MSCI Frontier Market Index mencerminkan kinerja pasar saham di negara-negara yang lebih kecil dan kurang berkembang dibandingkan emerging markets.
“Hal ini akan menjadi risiko yang lebih besar karena membuat dana investor asing yang keluar akan lebih banyak. Sehingga akan menekan IHSG dan nilai tukar mata uang rupiah,” kata Tim Phintraco.
Selain itu juga dapat berdampak pada likuiditas pasar yang menurun. Persepsi risiko negara juga akan memburuk serta biaya pendanaan yang dihadapi oleh pemerintah dan korporasi akan lebih tinggi.
Bobot Indonesia di Frontier Market Index akan cenderung lebih besar dibandingkan dengan di Emerging Market Index. Setelah terjadi sell-off, ada potensi valuasi saham akan lebih murah dan harga saham akan kembali pada fundamentalnya.
“Sehingga potensi untuk rebound masih terbuka ke depannya. Tapi seberapa lama dan seberapa besar dampak kebijakan MSCI terhadap pasar modal Indonesia, tergantung bagaimana otoritas pasar modal meresponnya,” kata Tim Phintraco.(*)
