Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Iran Siap Balas Ancaman Militer Amerika Serikat


Ayatollah Ali Khamenei, dalam sebuah upacara pertemuan dengan sekelompok pejabat di Teheran pada 8 Maret 2025. (sumber: Situs resmi kantor Pemimpin Agung Iran)

Iran : Teheran memperingatkan serangan balasan segera setelah Donald Trump mengerahkan armada tempur ke kawasan tersebut.

Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa angkatan bersenjata negaranya berada dalam posisi siaga penuh. 

Pernyataan ini muncul sebagai respons langsung atas ancaman Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang kembali melontarkan opsi tindakan militer terhadap Teheran.

"Angkatan bersenjata kami yang pemberani telah Bersiap dengan jari di atas pelatuk untuk segera memberikan respons kuat terhadap setiap agresi di darat, udara, maupun laut," tulis Araghchi melalui pernyataan resminya pada Rabu malam 28 Januari 2026.

Pelajaran dari Konflik Masa Lalu

Araghchi merujuk pada konfrontasi militer dengan Israel dan serangan AS terhadap situs nuklir Iran pada Juni tahun lalu sebagai titik pembelajaran strategis. Ia mengeklaim bahwa Iran kini jauh lebih siap menghadapi tekanan eksternal.

"Pelajaran berharga dari perang 12 hari tersebut telah memungkinkan kami untuk merespons dengan lebih kuat, cepat, dan mendalam," tambahnya.

Pernyataan ini merupakan balasan terhadap retorika Donald Trump yang menyebut sedang mengirimkan "armada besar" menuju Iran. 

Melalui platform Truth Social, Trump menyatakan bahwa pasukannya siap memenuhi misi dengan kecepatan dan kekuatan jika diperlukan. 

Trump memberikan pilihan kepada Teheran: kembali ke meja perundingan untuk kesepakatan baru atau menghadapi konsekuensi militer yang lebih berat.

Diplomasi di Bawah Bayang-bayang Militer

Meskipun ancaman militer menguat, Washington tetap membuka celah diplomasi. Trump mendesak Iran untuk merundingkan kesepakatan yang menjamin tidak adanya senjata nuklir. Namun, Teheran menolak bernegosiasi selama masih berada di bawah tekanan militer.

"Posisi kami jelas: negosiasi tidak berjalan beriringan dengan ancaman. Pembicaraan hanya dapat terjadi jika tidak ada lagi intimidasi dan tuntutan yang berlebihan," tegas Araghchi kepada media pemerintah.

Adnan Hayajneh, Profesor Hubungan Internasional dari Universitas Qatar, menilai bahwa pengerahan kapal induk USS Abraham Lincoln adalah bentuk "unjuk kekuatan" klasik Amerika untuk memaksa Iran tunduk. 

Menurutnya, Washington berusaha menghentikan program nuklir dan rudal Iran di tengah kondisi domestik Teheran yang dianggap sedang melemah.

Upaya Regional Meredam Ketegangan

Di tengah eskalasi ini, para mediator internasional terus berupaya mencari jalan keluar di balik layar. Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, mengindikasikan bahwa Iran sebenarnya masih terbuka untuk membicarakan berkas nuklir dalam kondisi yang adil.

Negara-negara tetangga seperti Mesir juga telah melakukan komunikasi intensif dengan kedua belah pihak guna mencegah kawasan tersebut terperosok ke dalam siklus instabilitas baru.

 Namun, para analis memperingatkan bahwa keputusan akhir terkait serangan militer tetap berada di tangan Gedung Putih, yang sering kali mengabaikan pertimbangan aktor regional demi kepentingan strategis nasionalnya.(*)

Hide Ads Show Ads