Hari ini
Cuaca 0oC
Headline News :

Menkeu Purbaya Optimis IHSG Terus Naik Tahun Ini

Jakarta: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimis Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan terus naik di tahun ini. Seiring dengan kondisi perekonomian domestik yang menurutnya makin membaik.(2

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (tengah depan) saat membuka perdagangan awal tahun di Bursa Efek Indonesia, Jumat (2/1/2025)

“IHSG dibuka naik, saya pikir ada optimisme di pasar kita akan membaik terus ke depan. Pondasi ekonomi yang sudah membaik, tahun ini akan lebih baik lagi,” kata Menkeu Purbaya di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (2/1/2025).

Kondisi perekonomian yang membaik, lanjut Menkeu, karena kebijakan kementerian keuangan dan Bank Indonesi makin selaras. “Jadi pertumbuhan ekonomi seharusnya akan lebih cepat, pelaku pasar siap-siap aja,” ujarnya. 

Dalam keterangan pers jelang tutup tahun kemarin, Menkeu masih optimis pertumbuhan ekonomi 2025 bisa mencapai target 5,2 persen. Untuk pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2025, Menkeu memperkirakan sekitar 5,5 persen.

“Kalau perekonomian membaik, dunia usaha membaik, seharusnya sih saham-saham juga ikut naik,” ucapnya. Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar mengatakan, kinerja pasar modal masih bisa lebih baik lagi.

Ia mencontohkan kinerja Indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan. Indeks ini menjadi menjadi rujukan investasi fund manager global maupun domestik, tapi hanya tumbuh 2,41 persen.

Advertisement

“Pertumbuhannya masih jauh di bawah kenaikan IHSG,” ujar Mahendra. Dia juga menyoroti kontribusi pasar saham terhadap Produk Domestik Bruto yang masih perlu ditingkatkan.

Kontribusi pasar saham terhadap PDB memang naik sangat signifikan 72 persen dibandingkan kenaikan 56 persen akhir tahun 2024. Menurut Mahendra, kenaikannya luar biasa, tapi masih lebih rendah dibandingkan negara-negara di kawasan.

Ia membandingkan dengan India, kontribusi pasar saham tehadap PDB nya mencapai 140 persen. Thailand 101 persen dan Malaysia 97 persen. “Artinya potensi pengembangan pasar saham Indonesia bisa lebih besar lagi,” ucapnya.

Namun Mahendra menilai porsi transaksi investor ritel di Indonesia meningkat pesat. Dari 38 persen di akhir tahun 2024, menjadi 50 persen berdasarkan data terakhir tahun 2025.

Proporsi itu, menurutnya, sangat besar dibandingkan negara-negara lainnya yang lebih mengandalkan investor institutional dalam maupun luar negeri. Untuk itu, aspek perlindungan konsumen, utamanya investor ritel di pasar modal Indonesia harus ditingkatkan.

“Investor ritel harus dilindungi dari praktik kemungkinan goreng-menggoreng saham dan transaksi tidak wajar. Serta kemungkinan bentuk manipulasi lainnya yang merugikan investor,” kata Mahendra.(*)

WEB UTAMA
Hide Ads Show Ads