Hari ini
Cuaca 0oC
Headline News :

Perempuan Jadi Pemuas Nafsu, Unicef Sebut Kekerasan Seksual Anak Mengakar di Kongo

Karawang: Kekerasan seksual terhadap anak telah mengakar, menjadi sistemik, dan semakin meluas di seluruh Republik Demokratik Kongo (DRC). Hal itu merujuk pada data baru menunjukkan peningkatan tajam dalam kasus-kasus tersebut sejak tahun 2022, menurut UN Children’s Fund (Unicef).


Seorang penyintas perkosaan berusia 17 tahun duduk bersama anaknya di Kongo timur (Foto: UNFPA/Junior Mayindu)

Peningkatan jumlah pengungsi terjadi di tengah meningkatnya konflik di Kongo timur, di mana pertempuran yang kembali berkobar telah memicu pengungsian massal. Mengikis sistem perlindungan, dan memperdalam krisis kemanusiaan yang sudah parah menempatkan anak-anak pada risiko tinggi pelecehan, eksploitasi, dan trauma jangka panjang.
Seorang penyintas perkosaan berusia 17 tahun duduk bersama anaknya di Kongo timur (Foto: UNFPA/Junior Mayindu)

UNICEF telah berulang kali menyerukan penghentian permusuhan segera dan akses kemanusiaan tanpa hambatan. Kemudian, enekankan bahwa pengungsian dan kemiskinan akibat konflik memicu kekerasan terhadap anak-anak di seluruh negeri.

Dilansir UN News, laporan berjudul "Bekas Luka Tersembunyi dari Konflik dan Keheningan" mendokumentasikan kasus-kasus di setiap provinsi. Menggarisbawahi bahwa krisis ini meluas jauh melampaui garis depan aktif.

Angka tertinggi tercatat di provinsi-provinsi timur yang terdampak konflik, termasuk Kivu Utara, Kivu Selatan, dan Ituri. Ketidakamanan, pengungsian, dan layanan perlindungan yang lemah membuat anak-anak sangat rentan.
Foto ilustrasi: Warga Kongo

Angka yang signifikan juga dilaporkan di Kinshasa dan wilayah Kasai, di mana kemiskinan, kerawanan pangan. Serta, angka putus sekolah meningkatkan risiko eksploitasi, pernikahan dini, dan pelecehan.

Data nasional yang dikumpulkan oleh penyedia layanan perlindungan anak dan kekerasan berbasis gender menunjukkan lebih dari 35.000 kasus kekerasan seksual terhadap anak. Tercatat hanya dalam sembilan bulan pertama tahun 2025.

Pada tahun 2024, hampir 45.000 kasus didokumentasikan, hampir tiga kali lebih tinggi daripada tahun 2022. Yang mencakup hampir 40 persen dari semua kasus kekerasan seksual yang dilaporkan di negara tersebut.

UNICEF memperingatkan jumlah korban sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi, karena rasa takut, stigma, rasa tidak aman. Serta, akses terbatas terhadap layanan mencegah banyak korban untuk melaporkan pelecehan.

Laporan ini memusatkan kesaksian para penyintas bersama data, menggarisbawahi bahwa setiap statistik mewakili seorang anak yang hidupnya telah sangat berubah akibat kekerasan. Para penyintas menggambarkan rasa malu, isolasi, dan rasa harga diri yang hancur, sambil juga mengungkapkan tekad untuk mendapatkan kembali martabat dan harapan.

Kisah-kisah mereka, yang dikumpulkan oleh pekerja sosial di berbagai provinsi, menggambarkan baik besarnya krisis maupun ketahanan mereka yang terdampak. Senbuah ketahanan yang menurut UNICEF harus membentuk respons yang diberikan.(*)

WEB UTAMA
Hide Ads Show Ads