Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News
WEB UTAMA

Rupiah Perlahan Menguat, Akhir Pekan Naik 76 Poin

Jakarta:; Nilai tukar rupiah perlahan menguat kembali terhadap dolar AS. Hari ini, berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup naik 0,45 persen atau 76 poin menjadi Rp16.820 per dolar AS.
Ilustrasi. Tumpukan uang logam dan uang kertas rupiah (Foto: Dokumentasi Bank Indonesia)

Rupiah menguat karena dolar AS yang cenderung melemah/dipengaruhi oleh sentimen pasar terhadap sejumlah isu di AS. “Pasar saat ini menunggu pilihan Presiden AS Donald Trump untuk Ketua the Fed berikutnya yang menggantikan Jerome Powell,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Jumat, 23 Januari 2026.

Selain itu, Ketua the Fed yang bersikap lebih lunak akan meningkatkan spekulasi penurunan suku bunga lebih lanjut. Data ekonomi AS terbaru juga menunjukkan bahwa perekonomian lebih baik dari yang diperkirakan. 

Produk Domestik Bruto (PDB) untuk kuartal ketiga melebihi perkiraan. Pada saat yang sama, pasar tenaga kerja menunjukkan tanda-tanda stabilitas daripada pelemahan. 

Dari sisi geopolitik, Presiden Trump mengatakan telah mengamankan aksesnya ke Greenland dalam kesepakatan dengan NATO. Trump juga mengatakan tidak berharap ada tindakan militer AS ke Iran, kecuali Iran melanjutkan program nukirnya. 

Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy dari Ukraina terus menuntut jaminan kemanan pada AS. Namun Trump menekan Ukraina untuk mengamankan perdamaian dengan Rusia.

Sementara itu di dalam negeri, Dana Moneter Internasional (IMF) mengingatkan Bank Indonesia (BI) untuk berhati-hati dalam melakukan intervensi pasar. “IMF menegaskan, nilai tukar rupiah harus tetap berfungsi sebagai peredam guncangan utama di tengah tingginya ketidakpastian global,” ucap Ibrahim.

IMF menilai pengaturan nilai tukar Indonesia masih mengambang secara de facto. Artinya, secara praktik, rupiah dibiarkan bergerak mengikuti mekanisme pasar. 

“IMF menekankan intervensi harus dilakukan secara bijaksana dan terukur. Upaya stabilisasi nilai tukar tidak boleh menghambat penyesuaian fundamental yang diperlukan,” ujar Ibrahim. 

IMF juga meminta BI mempertimbangkan kebutuhan menjaga kecukupan cadangan devisa di tengah lingkungan eksternal yang rawan guncangan. Meski cadangan devisa Indonesia saat ini tetap memadai .(*)

WEB UTAMA
Hide Ads Show Ads