FIFA Ingin Piala Dunia 2026 Jadi Simbol Perdamaian
Karawang : FIFA menolak desakan boikot Piala Dunia 2026 dan mengajukan gagasan untuk mencabut sanksi terhadap Rusia.
Presiden FIFA, Gianni Infantino menolak desakan boikot terhadap Piala Dunia 2026 yang dilangsungkan di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat. Justru pada momen seperti ini, sepak bola bisa berperan penting.
Desakan boikot Piala Dunia 2026 muncul setelah adanya kebijakan politik internasional Presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang dianggap mengusik perdamaian dunia beberapa waktu belakangan ini.
"Di dunia kita yang terpecah, di dunia kita yang agresif, kita membutuhkan kesempatan di mana orang dapat datang dan bertemu di tengah gairah sepak bola," kata Gianni Infantino, dikutip dari Sky News, Selasa, 3 Februari 2026.
Dalam masa persiapan menggelar Piala Dunia 2026, FIFA kerap mendapatkan kritik. Yang paling mencolok ketika mereka memberi penghargaan perdamaian kepada Donald Trump.
Gianni Infantino tak goyah dengan kritik yang datang. Menurutnya, apa yang dilakukan FIFA sudah tepat, karena tujuannya adalah mendorong perdamaian dunia.
"Secara objektif, dia pantas mendapatkannya. Kita harus melakukan apa yang bisa dilakukan untuk membantu perdamaian. Karena alasan ini, untuk beberapa waktu kami berpikir dan kami harus melakukan sesuatu dengan memberi penghargaan kepada orang-orang yang telah melakukan sesuatu," ujarnya.
Pria berusia 55 tahun itu mengajukan gagasan untuk mencabut sanksi terhadap Rusia. Menurutnya, sanksi yang sudah berjalan sekira empat tahun itu justru memberi dampak tidak baik bagi olahraga.
"Larangan itu tidak mencapai apa pun, hanya menciptakan lebih banyak frustrasi dan kebencian. Dengan adanya anak perempuan dan laki-laki dari Rusia yang dapat bermain sepak bola di bagian lain Eropa, itu akan membantu," tutur Gianni Infantino.
Piala Dunia 2026 sangat dinantikan kehadirannya oleh para penggemar sepak bola. Pada edisi kali ini FIFA melakukan perubahan format dengan menambah jumlah peserta menjadi 48.
Kebijakan FIFA itu tak sekadar membuat persaingan dalam perburuan gelar juara semakin ketat, tapi juga membuka peluang bagi negara-negara yang belum pernah lolos ke Piala Dunia untuk ikut serta.(*)


