Pemerintah Dorong Reformasi Pasar Modal, IHSG Berpeluang Menguat ke 8.210
Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan penguatan pada perdagangan Selasa (3/2) dan berhasil menembus level psikologis 8.000. Hingga pukul 14.45 WIB, IHSG tercatat di posisi 8.049 atau naik 1,6 persen dibandingkan level pembukaan di 7.888.
Aktivitas transaksi terpantau solid dengan volume perdagangan mencapai 493 miliar saham dan nilai transaksi sekitar Rp23 triliun. Penguatan indeks mencerminkan meningkatnya optimisme pelaku pasar terhadap prospek pasar saham domestik.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menilai pergerakan IHSG masih berada dalam tren teknikal yang positif. Ia menyebut penguatan terjadi setelah indeks menguji area 38,2 persen Fibonacci retracement.
“Secara teknikal, IHSG berpeluang melanjutkan penguatan setelah menguji area 38,2 persen Fibonacci retracement, didukung indikator RSI yang sebelumnya berada di area oversold,”kata Nafan dalam keterangan yang diterima tvrinews, Selasa, 3 Februari 2026.
Menurutnya, IHSG saat ini memiliki level support di kisaran 7.836 dan 7.701, dengan resistance terdekat di level 8.054 dan 8.210. Selama indeks mampu bertahan di atas area support, potensi kenaikan lanjutan masih terbuka.
Dari sisi sentimen domestik, Nafan menilai pasar merespons positif langkah regulator pasar modal. Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) telah menyampaikan sejumlah usulan reformasi pasar modal kepada MSCI.
Usulan tersebut mencakup peningkatan transparansi pengungkapan kepemilikan saham, penguatan likuiditas pasar, serta rencana kenaikan batas minimum free float secara bertahap dari 7,5 persen menjadi 15 persen, dengan target awal implementasi pada Maret 2026. Selain itu, penguatan kualitas data investor juga dilakukan melalui klasifikasi 27 subtipe investor dan pembaruan data secara berkala.
Sementara dari sisi global, pelaku pasar masih memperkirakan Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve) akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam waktu dekat. Meski demikian, peluang pemangkasan suku bunga lanjutan pada pertengahan 2026 tetap terbuka jika inflasi tetap terkendali.
Optimisme terhadap kinerja keuangan emiten teknologi berkapitalisasi besar, serta penantian rilis data ketenagakerjaan, turut menopang sentimen positif pasar saham global.
“Kombinasi sentimen teknikal, domestik, dan global menjadi faktor pendukung bagi IHSG untuk tetap bergerak stabil dengan kecenderungan menguat dalam jangka pendek,” pungkas Nafan.(*)
