Drone Murah Iran Guncang Militer Amerika
Dubai, UEA ; Ribuan pesawat nirawak targetkan pangkalan AS dan pusat energi Timur Tengah.
![]() |
| Drone serang satu arah kelas Shahed milik Iran yang digunakan oleh rezim tersebut untuk menyerang situs-situs Amerika Serikat dan Israel di Timur Tengah. (Foto: FOX News) |
Sejak operasi udara diluncurkan pada Sabtu 28 Februari 2026 lalu, dinamika konflik di Timur Tengah bergeser secara signifikan.
Fokus perhatian kini tertuju pada penggunaan pesawat nirawak (drone) berbiaya rendah oleh Iran yang mampu menciptakan tekanan besar bagi sistem pertahanan udara modern.
Meskipun Donald Trump sebelumnya memperingatkan bahwa industri rudal Iran akan "dihancurkan secara total," penggunaan armada drone justru menjadi instrumen utama Teheran dalam enam hari terakhir.
Sebanyak lebih dari 2.000 unit drone dilaporkan telah diluncurkan ke berbagai target di seluruh kawasan.
Dampak Serangan dan Tekanan Psikologis
Berdasarkan Pantauan yang dirilis oleh BBC News, Drone jenis 'kamikaze' Shahed, yang membawa muatan peledak dan hancur saat benturan, telah menyebabkan kerusakan signifikan.
Insiden paling fatal sejauh ini dilaporkan terjadi di sebuah pangkalan militer di Kuwait, yang mengakibatkan gugurnya enam tentara Amerika Serikat.
Selain menyasar aset militer, serangan juga menghantam kawasan padat penduduk dan sektor energi vital. Di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), sebuah pesawat nirawak terekam menghantam sebuah hotel di kawasan mewah Palm Jumeirah.
Sementara itu, kilang minyak Ras Tanura di Arab Saudi terpaksa menghentikan produksi menyusul kebakaran yang dipicu oleh serpihan intersepsi drone.
Nicholas Carl, pakar Iran dari American Enterprise Institute, menilai strategi ini bukan sekadar serangan fisik.
"Rezim Iran mencoba memberikan tekanan psikologis dan menyebarkan ketakutan terhadap AS serta mitra regionalnya guna memaksa kesepakatan gencatan senjata," ujarnya kepada BBC.
Efisiensi Biaya dan Tantangan Intersepsi
Keunggulan utama Shahed 136 terletak pada efisiensi produksinya. Dengan biaya hanya berkisar antara $20.000 hingga $50.000 (sekitar Rp315 juta hingga Rp790 juta), drone ini jauh lebih murah dibandingkan rudal pencegat yang digunakan oleh pasukan koalisi.
Sebagai perbandingan, jet tempur RAF Inggris yang membantu mencegat serangan serupa dilaporkan menggunakan rudal dengan estimasi biaya £200.000 (sekitar Rp4 miliar) per unit.
Ketimpangan biaya ini menjadi strategi Iran untuk menguras cadangan amunisi pertahanan lawan.
Secara teknis, Shahed sulit dideteksi karena profilnya yang ramping dan kemampuan terbang rendah, sehingga luput dari pantauan sistem peringatan dini yang biasanya dirancang untuk melacak rudal balistik. Berbeda dengan drone komersial, Shahed beroperasi secara otonom melalui rute yang telah diprogram dengan navigasi satelit.
Respons Amerika Serikat dan Penurunan Intensitas
Menanggapi ancaman tersebut, Amerika Serikat kini mulai mengerahkan teknologi serupa yang disebut Lucas (low-cost uncrewed combat attack system).
Laksamana Brad Cooper, pimpinan pasukan AS di Timur Tengah, menyatakan bahwa pihaknya telah mengadaptasi desain tersebut dengan peningkatan kemampuan.
"Kami mengambil desain tersebut, membuatnya lebih baik, dan meluncurkannya kembali ke arah mereka," tegas Laksamana Cooper. Kutip BBC News.
Meski tekanan masih berlanjut, data terbaru menunjukkan adanya penurunan aktivitas serangan. Pada hari Kamis 5 Maret 2026, Laksamana Cooper melaporkan bahwa intensitas peluncuran drone Iran telah menurun sebesar 83% dibandingkan hari pertama konflik, sementara penggunaan rudal balistik turun hingga 90%.
Para analis militer memprediksi Iran akan menghadapi kesulitan untuk mempertahankan intensitas serangan ini di tengah tekanan militer yang terus dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap situs-situs produksi dan penyimpanan di dalam negeri Iran.(*)



