Ekonomi Indonesia Tetap Kokoh di Tengah Geopolitik
Jakarta : Fundamental domestik yang kuat dan surplus perdagangan menjadi perisai utama Indonesia dalam menghadapi ketegangan global di Timur Tengah
Di tengah meningkatnya eskalasi geopolitik di Timur Tengah, khususnya ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, fundamental ekonomi Indonesia dilaporkan oleh Badan Komunikasi Pemerintah RI, tetap berada dalam kondisi yang resilien dan stabil.
Kombinasi antara inflasi yang terkendali, performa sektor manufaktur yang ekspansif, serta surplus neraca perdagangan yang konsisten menjadi tumpuan utama bagi ketahanan ekonomi nasional dalam menghadapi volatilitas global.
Berdasarkan data terbaru per Februari 2026, inflasi inti Indonesia tercatat berada pada level moderat sebesar 1,4%, menunjukkan tekanan harga domestik yang masih dalam kendali otoritas moneter.
Ketangguhan ini juga didukung oleh sektor perdagangan luar negeri yang mencatatkan surplus selama 69 bulan berturut-turut, dengan nilai mencapai USD 954 juta pada Januari 2026.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, menegaskan bahwa pemerintah terus melakukan pemantauan ketat terhadap dinamika global.
Menurutnya, daya tahan domestik merupakan modal krusial untuk menjaga momentum pertumbuhan.
"Resiliensi ekonomi domestik menjadi modal penting di tengah situasi global yang dinamis. Berbagai upaya untuk menjaga stabilitas dan ketahanan perekonomian domestik akan terus didorong, terutama melalui stimulus fiskal, iklim investasi, dan penciptaan lapangan kerja," ujar Febrio dalam pernyataan resminya.
Sentimen Bisnis dan Konsumsi yang Solid
Selain indikator makro, optimisme di tingkat pelaku usaha dan konsumen juga menunjukkan tren positif. Indeks Penjualan Riil tumbuh signifikan sebesar 7,9% (yoy), didampingi oleh Indeks Keyakinan Konsumen yang bertahan di level optimis pada angka 127.
Di sektor produksi, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia menyentuh angka 53,8.
Capaian ini merupakan titik tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir, menandakan bahwa aktivitas industri masih dalam fase ekspansi yang kuat meskipun terdapat risiko eksternal.
Disiplin Fiskal Tetap Terjaga
Pemerintah juga berkomitmen mempertahankan disiplin anggaran sebagai bagian dari strategi manajemen risiko. Defisit anggaran dipastikan tetap terjaga di bawah ambang batas 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Langkah-langkah strategis ke depan akan difokuskan pada penguatan pasar domestik untuk memitigasi dampak dari gangguan rantai pasok global.
Dengan fundamental eksternal yang sehat dan manajemen fiskal yang pruden, Indonesia optimis mampu menavigasi tantangan ekonomi global sepanjang tahun 2026.(*)


