G7 Gelar Pertemuan Darurat Bahas Krisis Minyak
Inggris; Harga Minyak Mentah Lampaui $100 Per Barel Akibat Eskalasi Konflik di Timur Tengah
Negara-negara anggota G7 dijadwalkan menggelar pertemuan darurat pada Senin 9 Maret 2026 guna merespons lonjakan tajam harga minyak dunia, setelah harga mentah melampaui ambang $100 per barel, memicu guncangan di pasar ekuitas global seiring meningkatnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran.
Menteri keuangan dari negara-negara industri maju, termasuk Kanselir Inggris Rachel Reeves, akan berkumpul untuk membedah dampak ekonomi dari konflik yang kian meluas tersebut.
Harga minyak dunia sempat menyentuh angka hampir $120 pada Senin pagi, didorong oleh kekhawatiran akan gangguan berkepanjangan pada jalur pasokan energi vital di Selat Hormuz.
Potensi Pelepasan Cadangan Energi Global
Laporan dari Financial Times menyebutkan bahwa agenda utama G7 mencakup diskusi mengenai pelepasan cadangan minyak mentah secara bersama yang dikoordinasikan oleh Badan Energi Internasional (IEA).
Jika terealisasi, ini akan menjadi intervensi pasar pertama sejak invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022.
Urgensi langkah ini didasari oleh fakta bahwa sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintasi Selat Hormuz. Jalur pelayaran sempit tersebut dilaporkan hampir lumpuh total sejak pertempuran pecah lebih dari sepekan lalu.
Ketegangan politik di Teheran turut memperkeruh suasana. Pada Minggu 8 Maret 2026, Iran menunjuk Mojtaba Khamenei untuk menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi.
Langkah ini dipandang sebagai sinyal kuat bahwa faksi garis keras tetap memegang kendali di tengah gempuran serangan udara AS dan Israel yang menyasar depot minyak di wilayah Iran.
Guncangan Pasar Keuangan
Dampak konflik telah merembet ke pasar modal. Di London, indeks FTSE 100 terkoreksi 1,5%, sementara indeks DAX Jerman dan CAC 40 Prancis merosot sekitar 2,5% saat pembukaan perdagangan.
Di Asia, pelemahan lebih dalam terlihat pada indeks Nikkei 225 Jepang yang anjlok 5,2% dan Kospi Korea Selatan yang jatuh 6% hingga memicu penghentian perdagangan sementara (circuit breaker).
Adnan Mazarei dari Peterson Institute for International Economics menilai lonjakan harga ini merupakan konsekuensi logis dari terhentinya produksi di beberapa negara Teluk.
"Pasar mulai menyadari bahwa konflik ini tidak akan berakhir dalam waktu dekat," ujar Mazarei. Ia juga menambahkan bahwa proyeksi stabilitas yang dijanjikan oleh AS kini menjadi "semakin tidak realistis."
Respons Politik dan Domestik
Di tengah tekanan ekonomi, Presiden AS Donald Trump memberikan pernyataan melalui platform Truth Social. Ia menyatakan bahwa kenaikan harga minyak jangka pendek adalah "harga kecil yang harus dibayar" demi keamanan dan perdamaian dunia pasca netralisasi ancaman nuklir Iran.
Namun, dampak langsung mulai dirasakan konsumen. Data dari grup pengendara AAA menunjukkan harga rata-rata bensin reguler di AS melonjak 11% dalam sepekan terakhir menjadi $3,32 per galon.
Menteri Energi AS, Chris Wright, dalam wawancara televisi pada Minggu menegaskan bahwa Israel, bukan Amerika Serikat, yang menjadi pelaksana utama serangan terhadap infrastruktur energi Iran.
Hal ini disampaikan guna meredam kekhawatiran domestik atas kenaikan harga bahan bakar di pompa bensin yang mulai membebani masyarakat.(*)


