Jelang Hari Raya Nyepi, Ribuan Umat Hindu Ikuti Upacara Melasti di Pantai Mertasari Sanur
Denpasar ; Ribuan umat Hindu memadati kawasan Pantai Mertasari sejak Senin dini hari untuk melaksanakan upacara Melasti sebagai rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1948.
Upacara Melasti merupakan ritual penyucian diri dan alam semesta yang dilakukan dengan membawa pratima atau simbol-simbol suci dari pura menuju sumber air, seperti laut atau danau.
Dalam tradisi Hindu di Bali, prosesi ini menjadi bagian penting menjelang pelaksanaan Nyepi yang menandai pergantian Tahun Baru Saka.
Salah satu desa adat yang melaksanakan prosesi Melasti di Pantai Mertasari adalah Desa Adat Panjer. Sekitar dua ribu lebih krama (warga adat) dari sembilan banjar turut ambil bagian dalam ritual tersebut.
Bendesa Adat Panjer, Anak Agung Oka Adnyana, mengatakan persiapan upacara sudah dimulai sejak pukul 04.00 WITA. Warga kemudian berangkat menuju pantai sekitar pukul 04.30 Wita menggunakan sejumlah kendaraan, mulai dari truk hingga kendaraan pribadi, sambil membawa pratima dan sarana upacara lainnya dari pura di wilayah desa adat.
Setibanya di pantai, rangkaian prosesi Melasti dimulai dengan upacara pangeresikan atau penyucian, dilanjutkan dengan persembahan ayaban dan ritual pakelem sebagai simbol harmonisasi dengan alam.
Setelah itu, umat Hindu melaksanakan persembahyangan bersama di tepi laut yang dipimpin oleh pemangku atau sulinggih setempat.
Melasti di Pantai Mertasari juga berlangsung khidmat dengan iringan gamelan dan barisan warga yang mengenakan busana adat Bali. Sejumlah pratima dan pratima pratima suci dari pura desa dibawa dalam iring-iringan menuju bibir pantai sebagai bagian dari prosesi penyucian.
“Masyarakat di Desa Adat Panjer hari ini melaksanakan upacara penyucian secara skala dan niskala, baik anggota tubuh, raga badan jasmani serta wujud fisik atau yang diyakini sebagai stana atau perwujudan sementara ida bhatara (Tuhan/Dewa) saat turun ke dunia (sesuhunan). Upacara melasti hari ini telah berjalan lancar dan sesuai dengan ajaran sastra agama untuk menyucikan pratima Ida Bhatara (Tuhan/Dewa) ke laut," ujar Anak Agung Oka Adnyana.
Usai prosesi Melasti, seluruh pratima kemudian ditempatkan di Pura Bale Agung Panjer untuk menjalani paruman dan nyejer selama dua hari. Nyejer merupakan tradisi menstanakan pratima di pura desa sebelum kembali ke pura masing-masing.
Selanjutnya, pada Rabu, 18 Maret 2026, Desa Adat Panjer dijadwalkan melaksanakan upacara Tawur yang menjadi bagian dari rangkaian persiapan Nyepi. Upacara ini biasanya diikuti dengan tradisi meburu pada sore hari sebagai simbol pembersihan unsur-unsur negatif.
Setelah seluruh rangkaian tersebut selesai, pratima akan dikembalikan ke pura masing-masing untuk melanjutkan persiapan Hari Raya Nyepi.
Secara umum, upacara Melasti dilaksanakan oleh desa-desa adat di berbagai wilayah Bali beberapa hari sebelum Nyepi. Ritual ini bertujuan untuk menyucikan bhuwana alit (diri manusia) dan bhuwana agung (alam semesta), sekaligus memohon keseimbangan dan keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan.
Pada Hari Raya Nyepi sendiri, umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian, yakni amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak menikmati hiburan). Selama 24 jam, seluruh aktivitas di Bali dihentikan sebagai bentuk refleksi spiritual dan introspeksi diri.(*)


