Konflik Iran dengan AS-Israel Dongkrak Harga Emas
Dubai : Harga emas menguat di tengah meningkatnya konflik di Timur Tengah setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Logam mulia yang dikenal sebagai aset safe haven itu naik 0,4 persen menjadi 5.297,31 dolar AS (Rp89,4 juta) per ons.
Melansir dari CNBC, Selasa, 3 Maret 2026, sebelumnya, harga logam mulia sempat melonjak lebih dari 2 persen dalam sesi perdagangan yang sama. Kontrak berjangka emas Amerika Serikat ditutup naik 1,2 persen, sementara indeks dolar AS menguat 1 persen.
Hal tersebut membuat emas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Analis menilai pasar masih berupaya mencermati apakah serangan militer tersebut akan berlanjut dalam beberapa pekan ke depan.
Ketidakpastian inilah yang dinilai menjadi faktor utama penopang harga emas. Konflik tersebut turut memicu lonjakan harga minyak dan gas, setelah sejumlah fasilitas energi di Timur Tengah terpaksa ditutup.
Pelayaran di Selat Hormuz, jalur penting perdagangan energi global, juga mengalami gangguan yang berpotensi memperburuk ketidakstabilan pasar. Analis SP Angel menilai fragmentasi geopolitik semakin meningkat.
Hal tersebut mendorong bank sentral negara-negara BRIC mengurangi eksposur terhadap aset berdenominasi dolar dan beralih ke emas. BNP Paribas juga memperkirakan permintaan investasi emas fisik akan menjadi pendorong utama pasar tahun ini.
Arus emas fisik ke pusat perdagangan emas di Dubai diperkirakan akan terhambat dalam beberapa hari ke depan. Hal ini disebabkan oleh pembatalan penerbangan akibat serangan militer.
Sementara itu, harga logam mulia lainnya justru mengalami pelemahan. Perak, platinum, dan paladium mencatat penurunan di tengah gejolak pasar global.(*)
