Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Perang Makin Meluas, Selat Hormuz Ditutup, Arus Minyak Anjlok 86 Persen

Teheran ; Arus minyak melalui Selat Hormuz anjlok tajam hingga 86 persen dibandingkan rata-rata harian tahun 2026. Penurunan ini terjadi menyusul meningkatnya ketegangan keamanan di kawasan tersebut, dilansir dari Anadolu, Rabu, 4 Maret 2026.
Ilustrasi kapal tanker minyak (Foto: Freepik)

Pada Minggu, 1 Maret 2026, hanya tiga kapal tanker yang tercatat melintasi jalur strategis tersebut, jauh di bawah rata-rata normal. Sementara itu, lebih dari 700 kapal lainnya mengantre di kedua sisi selat.

Penurunan drastis ini terjadi setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir pekan lalu. Serangan tersebut memicu lonjakan risiko keamanan dan biaya asuransi pelayaran.

Banyak operator kapal memilih menghentikan sementara penyeberangan demi menghindari potensi serangan lanjutan. Selat Hormuz terletak di mulut Teluk Persia dan menjadi jalur vital bagi perdagangan energi dunia.

Jalur ini menghubungkan produksi minyak dan gas alam cair Timur Tengah ke pasar global melalui Teluk Oman dan Samudra Hindia. Sekitar 20 persen konsumsi minyak harian dunia, atau hampir 20 juta barel, melewati koridor sempit tersebut setiap harinya.

Data sebelumnya menunjukkan bahwa pada 27 Februari sebanyak 15 kapal tanker mengangkut 21 juta barel minyak. Jumlah tersebut meningkat menjadi 21,6 juta barel pada 18 kapal pada Sabtu, 28 Februari 2026.

Namun, pada 1 Maret volume yang melintas merosot tajam menjadi hanya 2,8 juta barel. Rata-rata arus harian sepanjang tahun ini tercatat sekitar 19,8 juta barel, sehingga penurunan terbaru mencerminkan gangguan besar terhadap aliran energi global.

Sebanyak 706 kapal tanker non-Iran menunggu di berbagai titik di Teluk Persia, Teluk Oman, dan Laut Arab. Dari jumlah tersebut, 334 merupakan kapal tanker minyak mentah, 109 mengangkut produk minyak kotor, dan 263 membawa produk minyak bersih.

Antrean panjang ini diperkirakan akan menunda kedatangan kargo dan mendorong kenaikan biaya angkut. Kondisi tersebut juga memperbesar risiko gangguan pada rantai pasokan energi global.(*)

Hide Ads Show Ads