Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News
WEB UTAMA

Trump Tolak Tawaran Gencatan Senjata dengan Iran

Washington DC :Presiden AS tegaskan operasi militer berlanjut demi kesepakatan yang lebih menguntungkan Washington. 

Seorang petugas kepolisian Israel di Tel Aviv memeriksa bangkai kendaraan yang hancur Minggu 15 Maret 2026 (Foto: AFP/Jack Guez)

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa pihaknya belum siap untuk mengakhiri konfrontasi militer dengan Iran. 

Meski mengakui Teheran mulai menunjukkan keinginan untuk bernegosiasi, Trump menegaskan bahwa syarat-syarat yang ada saat ini belum memenuhi ekspektasi Amerika Serikat.  

"Iran ingin membuat kesepakatan, namun saya menolaknya karena ketentuannya belum cukup baik," ujar Trump dalam wawancara bersama NBC News pada Sabtu 14 Maret 2026 waktu setempat.

Ketegangan di kawasan Teluk terus meningkat seiring dengan intensitas serangan udara yang dilancarkan oleh pasukan koalisi AS-Israel ke wilayah Iran. 

Sebaliknya, Teheran merespons dengan meluncurkan gelombang serangan rudal dan pesawat tanpa awak (drone) yang menyasar beberapa titik di negara-negara Teluk serta Israel.  

Dampak Ekonomi dan Penutupan Jalur Laut

Konflik ini telah memicu guncangan hebat pada stabilitas ekonomi global. 

Penutupan jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz menyebabkan lonjakan harga bahan bakar dunia dan menghentikan arus ekspor minyak mentah secara signifikan.  

Laporan militer menyebutkan bahwa AS berencana meningkatkan tekanan di sepanjang pesisir Iran untuk membuka kembali jalur distribusi minyak.

 Trump bahkan sempat melontarkan pernyataan keras mengenai potensi serangan lanjutan terhadap fasilitas ekspor minyak utama Iran di Pulau Kharg.  

Krisis Kemanusiaan dan Upaya Diplomasi

Di sisi lain, Teheran melalui Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, mendesak komunitas internasional untuk mencegah eskalasi yang lebih luas.

Araghchi menyatakan kepada media Al-Araby Al-Jadeed bahwa Iran terbuka bagi proposal diplomasi asalkan mencakup penghentian perang secara menyeluruh.

Namun, ketidakpastian politik di internal Iran turut memperkeruh situasi. 

Trump meragukan kapasitas kepemimpinan Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, yang dilaporkan terluka dalam serangan pada akhir Februari lalu.  

"Saya bahkan tidak tahu apakah dia masih hidup. Sejauh ini, tidak ada yang bisa membuktikannya," cetus Trump yang merujuk pada spekulasi kondisi kesehatan pemimpin Iran tersebut,kutip The Guardian.

Korban Jiwa Terus Berjatuhan 

Data dari Komite Internasional Palang Merah (ICRC) mencatat dampak kemanusiaan yang sangat memprihatinkan. 

Lebih dari 1.300 orang dilaporkan tewas akibat rangkaian serangan udara di Iran, termasuk ratusan perempuan dan anak-anak. 

Selain itu, badan pengungsi PBB (UNHCR) memperkirakan sekitar 3,2 juta warga sipil telah meninggalkan kediaman mereka untuk mencari perlindungan.

Di Lebanon, situasi serupa terjadi di mana serangan udara Israel yang menargetkan posisi Hezbollah terus memakan korban jiwa, termasuk di wilayah pemukiman di Sidon dan desa al-Qatrani.

Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa’ar, menegaskan bahwa Israel dan AS memiliki visi yang selaras dalam menghadapi ancaman ini.

"Kami ingin menghapus ancaman eksistensial dari Iran untuk jangka panjang. Kami tidak ingin terjebak dalam perang setiap tahun," tegasnya.(*)

WEB UTAMA
Hide Ads Show Ads