Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Ada Apa Presiden Trump Kecam Eropa Terkait Perang Iran

Washington DC ; Ketegangan Transatlantik Meningkat Setelah Sekutu Menolak Dukungan Militer dan Akses Ruang Udara
Presiden Amerika Serikat, Donald

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, meluncurkan kecaman keras terhadap negara-negara Eropa yang menolak bergabung dalam koalisi militer melawan Iran.

Ketegangan ini menandai titik terendah baru dalam hubungan transatlantik di tengah konflik yang tengah melumpuhkan ekonomi global.

Melalui platform Truth Social, Trump memberikan peringatan tajam kepada pemerintah negara-negara Barat yang mengeluhkan lonjakan harga bahan bakar akibat blokade di Selat Hormuz.

"Cari minyakmu sendiri," tulis Trump, merujuk pada saran agar negara-negara tersebut menggunakan kekuatan militer di Teluk secara mandiri.

Pernyataan tersebut seketika memicu gejolak baru di pasar komoditas, yang mendorong harga minyak dunia merangkak naik lebih tinggi.

Perpecahan di Jantung Eropa

Sikap AS mendapat perlawanan diplomatik dan taktis yang signifikan dari sekutu tradisionalnya. Prancis dilaporkan telah memblokir pesawat Israel yang membawa pasokan senjata melewati ruang udaranya.

Sementara itu, Italia menolak izin pendaratan darurat bagi pengebom AS di Sisilia dengan alasan prosedur hukum domestik.

Spanyol, melalui Menteri Pertahanan Margarita Robles, secara tegas menyatakan tidak akan menerima "ceramah" dari pihak mana pun terkait komitmen perdamaian mereka.

"Dua negara memutuskan berperang dan mengharapkan kami bergabung. Kami tidak menerima ceramah dari siapa pun mengenai komitmen kami terhadap perdamaian," tegas Robles di hadapan parlemen Spanyol, Selasa 31 maret 2026.

Bahkan Inggris, yang secara teknis mengizinkan penggunaan pangkalannya oleh militer AS, tetap mendapatkan teguran publik dari Trump.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, bahkan secara sarkastis menyinggung kemampuan Angkatan Laut Inggris (Royal Navy) untuk bertindak secara mandiri di perairan internasional.

Dampak Ekonomi dan Proyeksi Perdamaian

Konflik yang telah berlangsung selama satu bulan ini telah merenggut lebih dari 3.000 nyawa dan memicu krisis biaya hidup global. Perdana Menteri Irlandia, Micheál Martin, menyebut guncangan pasokan minyak ini sebagai "yang terburuk dalam sejarah."

Di tengah eskalasi, muncul secercah harapan dari Teheran. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan memiliki "kemauan yang diperlukan" untuk mengakhiri perang, dengan syarat adanya jaminan keamanan bahwa konflik serupa tidak akan terulang.

"Iran siap mengakhiri perang asalkan kondisi esensial terpenuhi," ujar Pezeshkian. Pernyataan ini sempat meredam harga minyak mentah Brent ke bawah $104 per barel di pasar spot.

Eskalasi di Lebanon

Di saat diplomasi sedang diuji, Israel justru meningkatkan intensitas serangannya di Lebanon. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengonfirmasi rencana untuk menduduki wilayah selatan Lebanon secara permanen hingga Sungai Litani, sekitar 30 kilometer dari perbatasan.

Katz menegaskan bahwa militer Israel akan tetap berada di sana meskipun perang dengan milisi Hizbullah berakhir, serta melarang warga sipil Lebanon kembali ke rumah mereka di zona tersebut.

Seruan Moral dari Vatikan

Dari Vatikan, Paus Leo XIV menyampaikan keprihatinannya dan berharap konflik ini dapat berakhir menjelang perayaan Paskah.

Dalam pesan yang diyakini sebagai teguran bagi pemerintahan Trump, Paus menyatakan bahwa Tuhan mengabaikan doa para pemimpin yang melakukan perang dengan "tangan penuh darah."

Hingga laporan ini diturunkan, Gedung Putih mengumumkan bahwa Presiden Trump akan segera memberikan pidato nasional untuk memberikan pembaruan penting mengenai situasi di Iran, sementara Pakistan dan China mulai mengusulkan rencana negosiasi lima tahap guna membuka kembali Selat Hormuz.(*)

Hide Ads Show Ads