Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Srikandi Karawang Jadi Perhatian Publik di Kirab Mahkota Binokasih

Karawang ; Di tengah megah dan khidmatnya rangkaian Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda yang mengarak Mahkota Binokasih Sanghyang Pake di Kabupaten Karawang pada Sabtu (9/5/2026), satu sosok menarik perhatian ribuan warga yang memadati sepanjang jalan.
Foto : Hj.Sri Rahayu

Di barisan depan rombongan utama, beriringan dengan tokoh utama acara dan Bupati Karawang, tampak sesosok perempuan anggun namun berwibawa sedang menunggangi kuda hitam yang gagah.

Ia adalah Hj. Sri Rahayu, SH, tokoh publik, budayawan, dan anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi Partai Golkar yang berasal dari Karawang.

Penampilan Sri Rahayu dalam prosesi ini begitu memikat dan kental nuansa adat. Ia tampil mengenakan busana serba putih yang melambangkan kesucian dan kehormatan, lengkap dengan hiasan bunga melati yang melekat indah, mempertegas kesakralan momen tersebut. Dengan penuh percaya diri, ia menunggangi kudanya mendampingi Ketua Dewan Adat atau yang akrab disapa KDM serta Bupati Karawang, H. Aep Syaepuloh, dalam napak tilas bersejarah membawa pusaka agung Mahkota Binokasih dari kawasan titik pemberhentian menuju Alun-Alun Karawang.

Kehadirannya di barisan paling depan menjadi hal yang istimewa, mengingat secara umum barisan utama dan penunggangan kuda dalam prosesi adat besar seperti ini selama ini lebih banyak didominasi oleh tokoh-tokoh laki-laki. Kehadiran Sri Rahayu seolah memecah kebiasaan tersebut, sekaligus memberikan warna baru dan representasi nyata peran perempuan yang sejajar dan terhormat dalam menjaga dan mengawal warisan budaya leluhur.

Dikenal sebagai sosok yang memiliki kepedulian tinggi terhadap sejarah dan adat istiadat, Sri Rahayu mengungkapkan bahwa keterlibatannya secara langsung turun ke jalan mengikuti kirab bukan sekadar pendampingan semata. Bagi dia, momen ini memiliki makna yang jauh lebih dalam, baik sebagai budayawan maupun sebagai wakil rakyat.


“Keterlibatan saya ini bukan hanya sekadar mengawal Kang Dedi Mulyadi atau tokoh penting lainnya, tapi ini soal bagaimana kita bersama-sama menjaga, merawat, dan melestarikan nilai-nilai budaya luhur Jawa Barat yang merupakan jati diri kita semua. Turun ke jalan, hadir di tengah masyarakat, bahkan menunggang kuda dalam kirab seperti ini rasanya sangat berbeda. Saya merasa jauh lebih dekat, bisa melihat dan mendengar langsung suara serta semangat masyarakat tanpa ada sekat atau batasan apa pun,” ujar Sri Rahayu di sela-sela prosesi, dengan nada penuh haru dan bangga.

Aksi dan kehadiran “Srikandi” asal Karawang ini langsung menuai decak kagum dan pujian dari ribuan warga yang berjejer di sepanjang rute kirab. Banyak warga yang mengacungkan jempol, bertepuk tangan, dan mengabadikan momen langka tersebut. Bagi masyarakat, sosok Sri Rahayu menjadi simbol bahwa perempuan memiliki peran strategis, tidak hanya dalam lingkungan keluarga atau sosial, tetapi juga dalam ranah politik maupun pelestarian budaya.

Kehadirannya di barisan pendukung tokoh utama juga memberikan pesan kuat: bahwa peran perempuan dalam dunia politik tidak melulu soal duduk di balik meja rapat, menyusun kebijakan, atau berbicara di ruang sidang. Lebih dari itu, perempuan juga hadir aktif di lapangan, ikut bergerak, dan menjadi garda terdepan membawa identitas serta kearifan lokal daerahnya.

Sebagai tokoh publik dan budayawan yang memiliki pengaruh, keterlibatan Hj. Sri Rahayu Agustina dalam kegiatan akbar ini diharapkan bisa menjadi inspirasi sekaligus pemantik semangat, khususnya bagi generasi muda Karawang dan Jawa Barat. Di tengah derasnya arus modernisasi dan gempuran budaya asing yang kian kencang, kehadirannya menjadi pengingat bahwa cinta budaya harus tumbuh dari hati, dan warisan leluhur seperti Mahkota Binokasih harus tetap dijaga, dibanggakan, dan diwariskan ke anak cucu nanti.


Lewat penampilan anggunnya di atas punggung kuda hitam itu, Sri Rahayu membuktikan bahwa perempuan Karawang tidak hanya hadir sebagai penonton sejarah, melainkan juga berperan aktif sebagai pelaku sejarah yang terus menjaga kebesaran Tatar Sunda.(*)

Hide Ads Show Ads