Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Jeda Lebih Lama, Pemain Berisiko Cedera di Final Piala Dunia

Amerika Serikat ; Jeda yang melebihi 15 menit di laga final Piala Dunia 2026 akibat pertunjukan musik berpotensi merugikan pemain.(19/7/26).

Penyanyi latin ternama Shakira menjadi bintang utama dalam acara pembukaan Piala Dunia 2026 dengan lagu tema turnamen yang dibawakannya.
Penyanyi latin ternama Shakira menjadi bintang utama dalam acara pembukaan Piala Dunia 2026 dengan lagu tema turnamen yang dibawakannya.

Seolah kontroversi seputar jeda minum (hydration break) di setiap babak belum cukup, final Piala Dunia kini menghadapi faktor lain yang dapat memengaruhi kondisi fisik pemain: pertunjukan jeda babak (halftime show). 

Ini memang menjadi rekor tersendiri di Piala Dunia 2026 karena untuk kali pertama waktu istirahat pertandingan final bakal diisi dengan pertunjukan hiburan, mirip halftime show di ajang Super Bowl—laga final kejuaraan tahunan dari National Football League (NFL), liga olahraga profesional tertinggi untuk American football di Amerika Serikat (AS).

Tetapi di balik halftime show final Piala Dunia 2026, para pemangku kepentingan sepertinya mengabaikan sejumlah konsekuensi ataupun risiko dari diperpanjangnya waktu istirahat antarbabak. 

Jika sebelumnya para pemain kembali ke lapangan—untuk menjalani babak kedua—setelah istirahat 15 menit, kini untuk pertama kalinya mereka harus menghadapi jeda yang lebih lama (disebut-sebut berkisar antara 30, 17, hingga 22 menit).

“Dengan jeda yang lebih lama, suhu otot, detak jantung, dan aktivasi neuromuskular dapat menurun,” kata Breno Araujo, pelatih fisik America Football Club (America-RJ), sebuah klub sepak bola profesional di Rio de Janeiro, Brasil, seperti dikutip O Globo Esporte. 

“Hal ini menyebabkan pemain memulai babak kedua dengan kapasitas yang berkurang untuk melakukan sprint, akselerasi, dan perubahan arah secara cepat, serta mengalami kekakuan otot yang lebih tinggi. Perubahan kondisi ini dapat menurunkan performa fisik dan meningkatkan risiko cedera otot.”

Strategi untuk mengurangi risiko tersebut adalah dengan mengubah waktu istirahat babak pertama menjadi periode aktivitas, guna mencegah pemain berdiam diri terlalu lama. Protokol terkait mobilitas, aktivasi otot, hidrasi, pemulihan energi, dan menjaga suhu tubuh akan menjadi hal yang krusial. 

Selain itu, melakukan pemanasan serupa dengan pemanasan sebelum pertandingan—tepat sebelum kembali ke lapangan—dapat membantu tim mendapatkan kembali ritme permainan dan memperoleh keunggulan kompetitif.

Pelatih fisik Luis Teteo juga menyoroti dampak jeda yang berkepanjangan tersebut terhadap konsentrasi dan perilaku para atlet. Teteo adalah pelatih kekuatan dan pengondisian fisik serta pelatih pribadi asal Brasil.

Teteo memiliki spesialisasi dalam performa olahraga, latihan fungsional, dan pengondisian fisik performa tinggi, serta memegang sertifikasi dari Konfederasi Sepak Bola Brasil (CBF) dan Functional Movement Systems (FMS).

“Saat pertandingan dimulai, sebagian atlet sudah dalam kondisi waspada dan fokus, namun banyak pula yang masih perlu membangun kesiapan tersebut, yang bisa memakan waktu 10 hingga 20 menit,” ucap Teteo. 

“Dengan adanya perpanjangan waktu akibat pertunjukan musik, kondisi kesiapan ini terganggu, sehingga awal babak kedua menjadi lebih sulit dijalani. 

“Akibatnya, risiko kurangnya konsentrasi, kesalahan operan, masalah koordinasi, kesalahan posisi, dan kekeliruan taktis pun meningkat, yang pada akhirnya berdampak negatif terhadap performa atlet selama turnamen.”

Pertandingan final Piala Dunia 2026 antara Spanyol melawan Argentina di New York New Jersey Stadium, East Rutherford, AS(*)

Hide Ads Show Ads