Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

3.000 TKW Asal Karawang Masih di Arab Saudi, Kini Hongkong-Taiwan Primadona

KARAWANG: Di tengah hiruk pikuk kawasan industri Karawang, ribuan warganya justru mencari nafkah ribuan kilometer dari kampung halaman. Data resmi pemerintah mengungkap jumlah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Karawang yang masih bekerja di luar negeri masih sangat tinggi.

TERUNGKAP! 3.000 TKW Karawang Masih Bertahan di Timur Tengah, Kangen Cucur Kampung

Pada saat Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Karawang, Ahmad Suroto, di tahun 2019 silam mengungkapkan bahwa sekitar 3.000 TKI asal Karawang masih bekerja di wilayah Timur Tengah, dengan konsentrasi terbanyak di Arab Saudi.

"Saat ini saja ada sekitar 3.000 TKI asal Karawang yang bekerja di Timur Tengah, dan paling banyak di Arab Saudi," ujar Suroto saat mengimbau warga agar mengikuti prosedur resmi melalui Layanan Terpadu Satu Atap (LTSA).

Fakta tersebut cukup mengejutkan mengingat Pemerintah Kabupaten Karawang sebenarnya telah melakukan moratorium pengiriman TKI ke Timur Tengah sejak tahun 2015. Namun praktik keberangkatan non-prosedural atau ilegal masih terjadi.

Karawang 7 Besar Pengirim TKI Nasional

Karawang memang bukan daerah baru dalam peta pengiriman pekerja migran Indonesia. Data Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) menempatkan Karawang di posisi 7 besar daerah asal TKI terbanyak di Indonesia.

Pada tahun 2011 tercatat 14.446 warga Karawang berangkat ke luar negeri, tahun 2012 sebanyak 10.338 orang, dan tahun 2013 sebanyak 11.749 orang.

Angka tersebut menempatkan Karawang sejajar dengan kantong-kantong TKI tradisional seperti Lombok Timur, Indramayu, dan Cilacap.

Pergeseran Tren: Dari Arab Saudi ke Hongkong dan Taiwan

Jika satu dekade lalu Arab Saudi menjadi primadona, kini tren tersebut bergeser drastis ke kawasan Asia Timur.


Data penempatan Pekerja Migran Indonesia (PMI) Januari-Juni 2024 menunjukkan Hong Kong dan Taiwan mendominasi sebagai negara tujuan utama. Hal ini didorong oleh gaji yang lebih tinggi, mencapai Rp 10-11 juta per bulan untuk sektor domestic worker dan caregiver, serta perlindungan hukum yang lebih baik dibandingkan negara Timur Tengah.

Berdasarkan data Crisis Center BNP2TKI periode Januari-Agustus 2017, pengaduan kasus TKI terbanyak masih didominasi kawasan Asia Pasifik dan Timur Tengah, dengan Malaysia 994 pengaduan, Arab Saudi 702, dan Taiwan 417 kasus. Hal ini menunjukkan betapa besarnya populasi TKI di negara-negara tersebut.

Untuk TKI asal Karawang sendiri, Hongkong yang membutuhkan pembantu rumah tangga dan perawat lansia, serta Taiwan yang membuka lowongan pabrik dan caregiver, menjadi magnet baru.

Pembaca Setia di Tengah Malam

Fakta unik, pembaca setia portal berita lokal seperti Pelita Karawang justru banyak datang pada tengah malam. Hal ini tidak lepas dari perbedaan zona waktu. Pukul 23.00 WIB di Karawang adalah pukul 00.00-01.00 WIB di Hongkong dan Taiwan, yang merupakan jam istirahat para pekerja migran setelah seharian bekerja.

Mereka mengakses berita kampung halaman untuk mengobati rasa rindu. Mulai dari berita pembangunan di Karawang, lowongan kerja, hingga kuliner khas seperti kue cucur yang sulit ditemukan di luar negeri.

Pemerintah mengimbau bagi warga Karawang yang ingin bekerja ke luar negeri agar tidak tergiur iming-iming gaji besar tanpa prosedur resmi. Keberangkatan ilegal berisiko menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan kesulitan saat pemulangan.

Bagi TKI asal Karawang yang menemui masalah di luar negeri, segera melapor ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) setempat atau Crisis Center BP2MI.

Buat TKW Karawang yang sedang membaca berita ini di Hongkong, Taiwan, Arab Saudi, atau Malaysia malam ini, dari desa mana asalmu? Masih kangen cucur dan serabi Karawang? Tulis di kolom komentar! (*) 

Hide Ads Show Ads