Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Bahagia Orang Tua Sederhana: Melihat Anak, Cucu dan Mantu Tertawa Bersama

KARAWANG,Kebahagiaan orang tua di masa senja sering kali tidak diukur dari seberapa banyak harta yang terkumpul atau setinggi apa jabatan yang pernah disandang anak-anaknya. Kebahagiaan itu hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana namun bermakna: ketika melihat anak, cucu, dan mantu hidup rukun, saling menyayangi, dan tertawa bersama dalam satu atap kasih sayang.
Cucu ke- 5 dari Jaya Kusumah Eka dan Hj. Nani Rustini, Pipi Gemoy di cubit Sebelah kanan oleh tangan Aby dan kiri Shandika 

Pemandangan penuh cinta itulah yang kini menjadi oase di tengah keluarga besar Jaya Kusumah Eka Saputra, CEO Pelita Karawang – Blitz News – Karawang Kekinian di Tempuran, Karawang.(19/10/26).

Keluarga besar ini adalah potret keharmonisan yang dibangun dengan kesabaran. Dari pernikahannya dengan Hj. Nani Rustini, Jaya Kusumah dikaruniai 3 orang anak: anak sulung Rossena Ratna Kusumah, putra kedua Abhy Sehabbudin Kusumah, dan putra bungsu Shandika Mubarak Abdillah yang baru saja menikah dengan istrinya Reza Amanda.

Dari istri keduanya, Hj. Ihat Solihat, Jaya Kusumah juga dikaruniai seorang putri cantik, Khanza Farida Kusumah, yang kini masih bersekolah dan mondok di Pondok Pesantren di Klari.

Rossena dan Abhy adalah kakak beradik yang kompak menjadi orang tua.

Rossena Ratna Kusumah yang bersuamikan Roja Lesmana telah memberikan 3 cucu untuk pasangan Jaya dan Hj. Nani Rustini: Muhammad Azfari, Ratu , dan si bungsu Jayen Cendikia — bocil gemoy yang kini menjadi idola keluarga.

Sementara sang adik, Abhy Sehabbudin Kusumah yang beristrikan Dila Handayani, memberikan 2 cucu yang lucu dan manis: Raffa, si lelaki ganteng, dan Gadish, si perempuan manis.

Bahagia Orang Tua Sederhana: Melihat Anak, Cucu dan Mantu Tertawa Bersama

Total 5 cucu dari  Jaya dan Hj. Nani Rustini inilah yang kini menjadi sumber tawa di rumah.

Di sebuah ruang tamu yang sederhana, tawa pecah tak terbendung. Bukan karena lelucon mahal, melainkan karena kelakar paman dan bibi yang gemas mencandai keponakan kecilnya.

“Jayen! Pipinya mana pipinya!”

Si kecil yang akrab disapa Si Gemoy itu hanya bisa melongo, dengan pipi chubby-nya yang dicubit lembut. Matanya yang bulat berbinar bingung, mulutnya sedikit terbuka, seolah bertanya kenapa semua orang tertawa melihatnya. Justru ekspresi polos itulah yang membuatnya menjadi idola, disayangi oleh kakaknya Azfari dan Azka, serta sepupunya Raffa dan Gadish.

Jayen bukan sekadar anak kecil yang lucu. Ia adalah perekat. Ia adalah alasan mengapa grup WhatsApp keluarga besar — dari Rossena, Abhy, Shandika, hingga Khanza — selalu ramai, dan mengapa rumah besar itu tak pernah sepi.

Keharmonisan seperti inilah yang mahal.

Di luar sana, banyak keluarga yang retak karena warisan tanah, ribut karena beda pendapat, atau jauh karena gengsi jabatan. Padahal, ketika orang tua telah tiada, yang akan dikenang bukanlah berapa luas sawah yang dibagi.

Yang akan dikenang adalah: apakah Azfari, Azka, Jayen, Raffa dan Gadish masih saling sapa sebagai sepupu yang akur? Apakah mantu seperti Roja Lesmana, Dila Handayani, dan Reza Amanda masih dianggap sebagai anak sendiri?

Bagi Jaya Kusumah Eka Saputra, momen tawa bersama 5 cucu itu adalah puncak kebahagiaan yang tak ternilai. Namun di balik tawa itu, ia menyadari bahwa keharmonisan tidak datang dengan sendirinya.

“Hati ini super bahagia melihat anak, cucu dan mantu bisa tertawa bersama seperti ini,” ungkap Jaya Kusumah Eka Saputra dengan mata berkaca.

“Melihat Rossena dengan Roja dan 3 anaknya Azfari, Azka, Jayen, melihat Abhy dengan Dila dan anak-anaknya Raffa dan Gadish, melihat Shandika yang baru menikah dengan Reza, dan Khanza yang lagi mondok di Klari. Lengkap rasanya.”

“Tapi jujur, menciptakan suasana harmonis itu butuh kesabaran yang luar biasa. Butuh keindahan hati. Kita harus tahu karakter anak, cucu, dan mantu masing-masing. Tidak bisa disamakan. Ada yang sensitif, ada yang ceplas-ceplos, ada yang pendiam. Semua harus dirangkul dengan cara berbeda,” tuturnya.

Ia pun membandingkan perjuangannya membangun keharmonisan dengan membangun usaha medianya.

“Jujur, lebih mudah mendirikan tiga media daring seperti Pelita Karawang, Blitz News, dan Karawang Kekinian yang jadi ladang hidup keluarga, dibanding menciptakan keharmonisan ini. Mendirikan media butuh modal dan kerja keras, tapi membangun harmonis butuh hati yang terus belajar sabar seumur hidup. Jadi ini sangat mahal dan berharga,” tegasnya.

Karena itu, lanjut Jaya, sangat tepat jika dikatakan warisan terindah orang tua bukanlah harta.

“Maka sangat tepat jika warisan terindah itu bukan harta, bukan jabatan, tapi ilmu dan keharmonisan antar keluarga. Harta akan habis dibagi, jabatan akan sirna. Tapi jika anak cucu mewarisi ilmu tentang cara saling menghormati dan menjaga keharmonisan, keluarga akan tetap menjadi rumah selamanya,” pungkasnya.

Keluarga besar Jaya Kusumah memberi pelajaran: bahwa tawa seorang balita seperti Jayen bisa meruntuhkan tembok ego orang dewasa. Bahwa cubitan lembut di pipi gemoy bisa menjadi jembatan kasih yang lebih kuat dari ikatan darah.

Sebab pada akhirnya, orang tua hanya ingin satu hal: melihat anak, cucu, dan mantu tetap akur.
Bahagia Orang Tua Sederhana: Melihat Anak, Cucu dan Mantu Tertawa Bersama

Jayen, Raffa, dan Gadish boleh tumbuh besar, tapi tawa mereka hari ini akan menjadi memori yang menjaga keluarga ini tetap utuh selamanya.(*)

SILSILAH :

Pasangan 1: Jaya Kusumah Eka Saputra & Hj. Nani Rustini

 1. Rossena Ratna Kusumah + Roja Lesmana = 3 cucu: M. Azfari, Ratu Azka, Jayen Cendikia (Gemoy)

2. Abhy Sehabbudin Kusumah + Dila Handayani = 2 cucu: Raffa (L) & Gadish (P)

-3. Shandika Mubarak Abdillah + Reza Amanda = baru menikah

Pasangan 2: Jaya Kusumah Eka Saputra & Hj. Ihat Solihat
1.. Khanza Farida Kusumah - Sekolah & Ponpes di Klari (*)

Hide Ads Show Ads