Bayi Sering Cegukan "Hik" Hampir Tiap Hari? IDAI: Normal, Tak Perlu Panik
Karawang : Cegukan cukup sering dialami bayi, dengan suara khas "hik" yang bisa muncul berulang bahkan hampir setiap hari, terutama setelah menyusu.
Kondisi tersebut kerap membuat orang tua khawatir dan mempertanyakan apakah bayi mengalami masalah kesehatan, apalagi cegukan sering dikaitkan dengan masuk angin hingga refluks.
Secara medis, cegukan terjadi ketika diafragma, yakni otot yang berperan dalam proses pernapasan, berkontraksi secara tiba-tiba dan tidak disengaja, yang kemudian diikuti penutupan glotis sehingga menimbulkan suara "hik".
Melansir laman resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Selasa (29/9/26), cegukan pada bayi dan anak umumnya tidak perlu dikhawatirkan. Kondisi ini dapat muncul setelah bayi melakukan aktivitas seperti menyusu.
Pada bayi, cegukan juga dapat berkaitan dengan kondisi perut yang teregang setelah minum atau refluks. Karena itu, tidak jarang cegukan muncul setelah bayi selesai menyusu.
Pada bayi sehat, cegukan umumnya merupakan hal yang normal dan dapat berhenti dengan sendirinya.
*36 Persen Bayi Sehat Cegukan Setiap Hari*
Melansir penelitian terhadap 100 bayi sehat dalam _Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition_, bahkan ditemukan 36 persen bayi mengalami cegukan setiap hari. Artinya, bayi yang cukup sering cegukan belum tentu sedang sakit.
Cegukan memang dapat muncul bersamaan dengan refluks, tetapi bukan berarti setiap bayi yang cegukan mengalami _gastroesophageal reflux disease_ (GERD).
Refluks sendiri merupakan kondisi yang cukup umum pada bayi, terutama pada bulan-bulan pertama kehidupan. Isi lambung dapat kembali naik ke kerongkongan karena sistem pencernaan bayi masih berkembang.
Penelitian terhadap bayi sehat usia 0-24 bulan menemukan gejala yang berkaitan dengan refluks memang lebih sering ditemukan pada bayi yang lebih muda. Frekuensi cegukan juga menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap skor gejala refluks pada bayi usia dini.
Meski begitu, cegukan saja tidak cukup untuk menyimpulkan bayi mengalami GERD. GERD baru menjadi perhatian ketika refluks menimbulkan masalah, misalnya bayi muntah terus-menerus, kesulitan makan atau menyusu, hingga pertumbuhan terganggu.
*Cara Kurangi Cegukan Setelah Menyusu*
Pada cegukan biasa, sebenarnya orang tua tidak perlu buru-buru menghentikannya. Cegukan pada bayi sehat umumnya akan hilang sendiri.
IDAI menyebut beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi kemungkinan cegukan, terutama yang muncul setelah menyusu. Orang tua dapat memastikan bayi tidak minum terlalu cepat dan tidak terlalu banyak menelan udara saat menyusu.
Bayi juga dapat disendawakan setelah minum. Memberikan jeda atau waktu istirahat setelah menyusu juga dapat membantu.
Jadi, ketika suara "hik" mulai terdengar, orang tua tidak perlu langsung panik. Alih-alih mencari cara menghentikan cegukan, perhatikan dulu kondisi bayi secara keseluruhan.
Yang perlu diperhatikan bukan hanya seberapa sering bayi cegukan, tetapi berapa lama cegukan berlangsung dan apakah disertai gejala lain.
Review PubMed menyebut cegukan akut pada umumnya bersifat jinak dan dapat berhenti dengan sendirinya. Sebaliknya, cegukan yang berlangsung lama atau sulit dihentikan lebih jarang terjadi dan dapat berkaitan dengan kondisi medis tertentu, mulai dari gangguan pencernaan, sistem saraf, paru-paru, infeksi, gangguan metabolik, hingga efek obat.
Jika bayi hanya sesekali cegukan, tetap aktif, mau menyusu, bernapas normal, dan tumbuh dengan baik, kondisi tersebut umumnya tidak perlu dikhawatirkan.(*)
