Bukan Sekadar Pintar, Ini Alasan Mengapa Anak Harus Dididik Agama Sejak Dini
PANCAKARYA, Pemandangan ibu bergamis sage menggandeng bocah berkoko biru menuju mesjid di pagi hari seperti di Desa Pancakarya, Kecamatan Tempuran, Karawang bukan sekadar pemandangan indah. Itu adalah investasi akhirat.
Di tengah gempuran gadget dan tontonan yang tak terfilter, banyak orang tua baru sadar ketika anak sudah susah diatur di usia SMP. Padahal Rasulullah SAW sudah mengingatkan, didiklah anak sejak dalam buaian.
1. Masa Golden Age adalah Masa Menanam Tauhid
Usia 0-5 tahun adalah golden age. Otak anak seperti spons. Apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan akan membekas sampai dewasa.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan, jika anak dibiasakan dengan kebaikan sejak kecil, ia akan tumbuh dalam kebaikan dan bahagia di dunia akhirat.
Di usia Jayen seperti di foto (2 tahun), ia belum paham arti sholat. Tapi ia paham bahwa ibunya tersenyum saat adzan berkumandang, bahwa ada tempat tenang bernama mesjid, bahwa ada baju khusus yang dipakai untuk menghadap Allah. Itulah penanaman fitrah.
2. Agama Adalah Pagar, Bukan Sekadar Pelajaran
Data stunting di KabupatennKarawang 17,6% menunjukkan bahwa anak bukan hanya butuh gizi fisik, tapi juga gizi ruhani. Anak yang kenyang nasi tapi lapar agama akan mudah goyah.
Anak yang dididik dengan dasar agama sejak dini akan memiliki 3 pagar:
- Pagar Malu: Malu bermaksiat karena merasa Allah melihat (muraqabah).
- Pagar Sabar: Kuat saat dibully atau gagal, karena paham konsep ikhlas dan tawakal.
- Pagar Hormat: Hormat pada orang tua, guru, dan tetangga di Pancakarya, karena adab diajarkan sebelum ilmu.
3. Mulai dari Hal Kecil di Rumah.
Tidak perlu langsung menghafal 30 juz. Cukup mulai dari kebiasaan warga yang anda yang sudah ada dan baik.
- Biasakan Bismillah dan Alhamdulillah.Sebelum makan, sebelum main, setelah jatuh.
- Ajak, Jangan Suruh. Ajak ke mesjid seperti di foto berita , bukan suruh. Anak meniru, bukan mendengar ceramah. Jika ibu ayah ke mesjid, Jayen akan mengekor.
- Ganti Dongeng dengan Kisah Nabi. Sebelum tidur, bukan cerita hantu, tapi kisah Nabi Yunus di dalam ikan atau Nabi Muhammad yang penyayang anak kecil.
- Pilih Baju yang Mendidik. Seperti Jayen pakai koko dan peci, ibu pakai hijab dan gamis. Pakaian adalah identitas dan pengingat.
Di tengah isu anak kecanduan HP, Desa Pancakarya bisa menjadi role model Kampung Ramah Anak Berbasis Masjid. Bayangkan jika setiap gang ada ibu-ibu yang OTW mesjid menggandeng anaknya seperti foto itu.
Kepala Desa bisa menggerakkan Maghrib Mengaji, TPQ di mesjid -mesjdi di Desa Pancakarya, dan lomba adzan untuk balita. Tidak perlu hadiah mahal, cukup peci baru atau koko biru seperti Jayen pakai.
Seperti kata pepatah Arab: Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu, belajar di waktu besar bagai mengukir di atas air.
Jika kita ingin Karawang bebas stunting fisik dan stunting akhlak, mulailah dari gandengan tangan ibu dan anak menuju mesjid pagi ini.
Wajah ceria Jayen yang tidak berubah itu adalah cermin masa depan Pancakarya. Apa yang kita ukir hari ini, itu yang akan kita tuai 20 tahun lagi.
Penulis: Redaksi
