Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Cerita Haji Hasan Mustapa dan Bupati Bandung, Kritik Telak Jelang Magrib

BANDUNG - Kadang kritik kepada penguasa tidak harus disampaikan dengan teriakan di tengah keramaian. Cukup satu jawaban singkat, tapi telak mengenai sasaran.

Cerita Haji Hasan Mustapa dan Bupati Bandung, Kritik Telak Jelang Magrib
Cerita Haji Hasan Mustapa dan Bupati Bandung, Kritik Telak Jelang Magrib

Begitulah kisah menarik dari Haji Hasan Mustapa, ulama besar sekaligus pujangga Sunda yang dikenal dengan kecerdasan, keberanian, dan cara menjawab yang tidak biasa.

Konon, pada suatu waktu menjelang Magrib, Haji Hasan Mustapa sedang bersiap melaksanakan salat. Tiba-tiba datang seorang opas, utusan dari Bupati Bandung yang ketika itu dikenal dengan sebutan Kanjeng Dalem.

Sang opas menyampaikan pertanyaan dari atasannya.

"Penghulu, Dalem Bupati ingin bertanya. Berapa gerangan jumlah setan di dunia?"

Haji Hasan Mustapa menjawab singkat, "Ada dua."

Mendengar jawaban itu, sang opas pun kembali menghadap bupati untuk menyampaikan hasilnya. Namun, rupanya bupati belum puas. Ia kembali mengutus opas tersebut untuk menanyakan hal yang lebih penting.

"Kalau ada dua, siapa saja mereka?"

Sang opas pun kembali menemui Haji Hasan Mustapa dan menyampaikan pertanyaan lanjutan itu. Jawaban yang diterimanya sungguh di luar dugaan.

"Yang pertama, setan Kanjeng Dalem. Yang kedua, setan opas."

Bayangkan, bagaimana perasaan seorang utusan yang harus membawa pulang jawaban seperti itu kepada atasannya!

Jawaban Haji Hasan Mustapa bukan sekadar lelucon biasa. Dalam kisah yang diwariskan melalui kumpulan anekdot tentang dirinya, ucapan tersebut menggambarkan keberaniannya menyindir penguasa dan orang yang dianggap mengganggu, terlebih ketika dirinya sedang bersiap beribadah.

Tentu saja, kita tidak bisa memastikan apakah percakapan itu berlangsung persis dengan susunan kata seperti yang diceritakan sekarang. Kisah ini dikenal melalui sumber-sumber anekdot dan tulisan yang mengutip riwayat tentang Haji Hasan Mustapa. Namun, cerita tersebut memberikan gambaran tentang sosoknya yang dikenal tajam dalam menjawab pertanyaan.

ULAMA YANG TIDAK GAMPANG DITEKAN

Haji Hasan Mustapa bukan orang sembarangan. Ia pernah menjabat sebagai Hoofd Penghulu atau penghulu besar di Bandung pada masa kolonial Belanda, sekitar 1895-1918.

Jabatan itu menempatkannya dalam lingkungan pemerintahan kolonial. Namun, berbagai kisah tentang dirinya menggambarkan bahwa ia bukan sosok yang selalu mengikuti kehendak penguasa tanpa mempertahankan pendiriannya.

Ia dikenal sebagai ulama yang mempunyai keluasan pengetahuan, terutama dalam agama dan tasawuf, sekaligus memiliki kemampuan menyampaikan gagasan dengan bahasa yang tajam dan kadang menggelitik.

Kisah tentang dua setan tadi memperlihatkan satu hal: kedudukan seseorang tidak selalu membuat orang lain harus kehilangan keberanian untuk menyampaikan kritik.

PELAJARAN DARI SEBUAH SINDIRAN

Ada pelajaran menarik yang bisa kita petik dari kisah ini.

Pertama, jabatan tidak membuat seseorang kebal dari kritik. Seorang pemimpin justru membutuhkan orang-orang yang berani mengingatkan ketika ada sesuatu yang keliru.

Kedua, kecerdasan bukan hanya soal banyaknya ilmu, tetapi juga ketepatan membaca keadaan. Haji Hasan Mustapa dikenang bukan semata-mata karena mampu menjawab pertanyaan, melainkan karena jawabannya meninggalkan kesan yang kuat.

Ketiga, jangan menggunakan kekuasaan untuk menguji atau menekan orang lain. Kekuasaan seharusnya digunakan untuk melayani, bukan untuk membuat orang takut menyampaikan kebenaran.

Haji Hasan Mustapa wafat di Bandung pada 1930. Namanya tetap dikenang sebagai ulama dan pujangga Sunda yang meninggalkan warisan pemikiran serta kisah-kisah yang terus diperbincangkan hingga sekarang.(*)

Hide Ads Show Ads