Hari Hangeul 9 Oktober: Mengenang Warisan Raja Sejong dan Aksara Korea
Jakarta: Korea Selatan memperingati Hari Hangeul setiap 9 Oktober sebagai penghormatan terhadap aksara Korea. Hangeul dikembangkan Raja Sejong pada abad ke-15 untuk memperluas akses baca-tulis masyarakat.
Hangeul awalnya bernama Hunminjeongeum, yang berarti "bunyi yang tepat untuk mengajarkan rakyat". Raja Sejong mengembangkan aksara tersebut bersama para sarjana kerajaan pada 1443.
Melansir Universitas Indonesia, Sebelum Hangeul digunakan, masyarakat Korea banyak memakai Hanja dalam kegiatan tulis-menulis. Hanja merupakan aksara Tiongkok yang memiliki banyak karakter dan sulit dipelajari masyarakat umum.
Kondisi itu membuat kemampuan baca-tulis lebih mudah diakses kalangan bangsawan dan kaum terpelajar. Raja Sejong kemudian mendorong pengembangan sistem tulisan yang lebih sederhana dan sistematis.
Pada 1443, Raja Sejong bersama para sarjana kerajaan mulai merumuskan sistem tulisan baru. Mereka mengembangkan aksara tersebut dengan nama Hunminjeongeum, yang berarti "suara yang tepat untuk mengajarkan rakyat".
Melalui penciptaan Hunminjeongeum, ia berupaya memperluas akses pengetahuan sekaligus mempermudah komunikasi tertulis di tengah masyarakat. Namun, kehadiran sistem tulisan baru tersebut sempat menuai beragam kritik.
Sejumlah bangsawan menentang penggunaannya karena menganggap aksara sederhana itu kurang bergengsi dibandingkan dengan Hanja. Mereka menganggap aksara tersebut hanya cocok untuk rakyat tidak berpendidikan, wanita, dan anak-anak.
Pada awal perkembangannya, Hunminjeongeum memiliki 28 huruf yang terdiri atas 17 konsonan dan 11 vokal. Seiring perkembangan bahasa, masyarakat Korea kini menggunakan 24 huruf dasar yang mencakup 14 konsonan dan 10 vokal.
Hunminjeongeum kemudian berkembang menjadi fondasi bagi Hangeul yang masyarakat Korea gunakan hingga sekarang. Nama Hangeul sendiri mulai diperkenalkan oleh Ju Sigyeong pada 1912 sebagai bagian dari perkembangan bahasa Korea modern.
Melansir Universitas Pendidikan Indonesia, secara etimologis, nama Hangeul menggabungkan Han (한) yang artinya Korea, dengan Geul (글) yang berarti aksara. Nama tersebut memperkuat kedudukan Hangeul sebagai sistem tulisan yang mewakili identitas bahasa dan masyarakat Korea.
Konsonan Hangeul dirancang berdasarkan organ bicara, seperti mulut, lidah, rongga mulut, dan tenggorokan. Sementara itu, bentuk dasar huruf vokal mencerminkan tiga unsur utama, yaitu langit, bumi, dan manusia.
Pengguna Hangeul juga dapat membentuk variasi bunyi melalui penggabungan huruf serta penggunaan konsonan dan vokal ganda. Susunan tersebut memungkinkan penulisan berbagai suku kata secara sistematis.
Pada 1948, Korea Selatan menetapkan penggunaan Hangeul dalam lingkungan sekolah dan dokumen resmi. Sejak itu, Hangeul semakin menempati posisi utama, sedangkan Hanja tetap muncul dalam konteks tertentu dan penggunaan formal.
Pengakuan internasional turut memperkuat nilai sejarah Hangeul sebagai warisan budaya dan pengetahuan masyarakat Korea. Pada 1997, UNESCO memasukkan Hunminjeongeum ke dalam daftar Memory of the World atau Memori Dunia.
Hingga kini, Hangeul tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga menjadi bagian penting identitas masyarakat Korea. Korea Selatan memperingati Hari Hangeul setiap 9 Oktober untuk mengenang jasa Raja Sejong dan sejarah perkembangan aksara tersebut.(*)

