Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Jejak Syekh Quro Penyebar Islam Tertua di Tanah Sunda yang Lebih Tua dari Walisongo

Karawang :  Jika Karawang punya Masjid Agung sebagai ikon kota, maka jantung spiritual Karawang ada di Dusun Pulobata, Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemahabang Wadas, sekitar 30 km timur laut pusat kota Karawang. Di sinilah Makam Syekh Quro bersemayam.(5/10/26)


Foto ilustrasi


Bukan makam biasa. Ini adalah makam penyebar Islam tertua di Tatar Sunda, bahkan lebih dulu datang daripada Walisongo di Jawa.

Siapa Syekh Quro?

Nama aslinya Syekh Hasanudin bin Yusuf Siddik atau Syekh Qurotul Ain atau Syekh Mursahadatillah. Ia putra ulama besar dari Campa (Kamboja sekarang) bernama Syekh Yusuf Siddik yang masih keturunan Sayidina Husein bin Ali RA, menantu Nabi Muhammad SAW. 325b

Sekitar tahun 1415, Syekh Quro datang dari Mekkah ke Karawang. Ia mendirikan pesantren pertama di Karawang. Salah satu murid terkenalnya adalah Nyi Subang Larang, yang kemudian menikah dengan Prabu Siliwangi Raja Pajajaran. Dari pernikahan itulah lahir putra-putra yang menjadi cikal bakal Kesultanan Cirebon dan Banten. 

Setelah mengajar di Karawang Kulon, Syekh Quro bersama santrinya  pindah ke utara Karawang tepatnya ke Pulobata untuk menyebarkan Islam dan bermunajat.

Di Pulobata mereka membuat sumur keramat bernama Sumur Awisan yang airnya masih digunakan warga sampai sekarang.

Saat usia sudah sangat uzur, Syekh Quro wafat dan dimakamkan di Pulobata. Sebelum wafat ia berwasiat legendaris: "Ingsun titip masjid langgar lan fakir miskin anak yatim dhuafa".

Ditemukan Kembali Tahun 1859

Makam Syekh Quro sempat hilang berabad-abad. Baru ditemukan kembali pada tahun 1859 Masehi oleh Raden Somaredja alias Ayah Djiin alias Pangeran Sambri dan Syekh Tolha yang ditugaskan Kesultanan Cirebon untuk mencari makam leluhurnya. b3ed

Keberadaannya diperkuat surat resmi dari Putra Mahkota Pangeran Jayakarta Adiningrat XII pada 5 November 1992.


Kenapa Ramai Tiap Malam Sabtu? Tradisi Sabtuan

Makam Pulobata tidak pernah sepi, terutama Malam Sabtu. Kenapa? Ada satu versi sebutkan karena makam ini ditemukan pada malam Sabtu, sehingga tiap malam Sabtu diadakan ritual tawasul akbar "Sabtuan" yang dihadiri ribuan peziarah dari Karawang, Subang, Cirebon, bahkan luar Jabar. 

Tradisi unik lainnya adalah bakar kemenyan. Menurut kuncen Oman Rohman, bukan mistik , tapi sebagai perantara doa kepada Allah dengan hakikat api. L

Di kompleks makam juga ada Pohon Quldi di belakang makam. Mitosnya, siapa yang dapat buahnya akan dapat berkah.

Selain Makam Syekh Quro, ada juga Makam Syekh Bentong santrinya, dan di depan Kantor Desa Pulokalapa ada makam penemunya Ayah Djiin Sumaredja yang ditandai patung kelapa besar.

Dampak Ekonomi & Wisata Religi

Keberadaan makam ini mendongkrak ekonomi warga Pulokalapa. Warung, parkir, oleh-oleh religi tumbuh subur. Tak heran pejabat hingga 50 caleg di  depan Karawang pun pernah ziarah ngalap berkah di sini menjelang Pemilu 2024.

Lokasi: Dusun Pulobata, Desa Pulokalapa, Kec. Lemahabang Wadas, Karawang. Dari pusat kota 45 menit via Jalan Lemahabang.

Jangan cuma ke mal Bos, sekali-sekali ziarah ke leluhur Karawang .

Anda Udah pernah ziarah kesini? (*)

Hide Ads Show Ads