Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Pelita di Rumah: Ketika Cinta Ibu Menjadi Madrasah Pertama bagi Anak

Karawang, Pelita Karawang: Di sebuah studio foto sederhana, seorang ibu berdiri sambil memeluk tiga anaknya. Mereka kompak mengenakan kaus putih, celana putih, dan sepatu jingga yang menyala. Tawa mereka lepas. Di balik tawa itu, tersimpan pelajaran Islam paling tua yang kerap dilupakan: bahwa madrasah pertama bagi seorang anak bukanlah sekolah mahal, melainkan dekapan ibunya.
Keterangan Foto:

Cinta yang sederhana tetapi abadi. Seorang ibu bersama tiga buah hatinya dalam balutan putih dan jingga, simbol kesucian dan semangat. (Foto: Dok. Pelita Karawang)


Keterangan Foto:

Cinta yang sederhana tetapi abadi. Seorang ibu bersama tiga buah hatinya dalam balutan putih dan jingga, simbol kesucian dan semangat. (Foto: Dok. Pelita Karawang)



Dalam pandangan Islam, ibu bukan sekadar pengasuh. Ibu adalah _al-ummu madrasatul ula_, sekolah pertama dan utama.

Apabila sekolah pertama itu rusak, rusaklah generasi selanjutnya. Sebaliknya, apabila sekolah pertama itu penuh cinta, lahirlah anak-anak yang kokoh akidahnya dan lembut akhlaknya.

1. Cinta yang Menjadi Kurikulum

Fakta lapangan  hari ini mencatat paradoks: banyak anak yang cerdas secara akademik, tetapi miskin kasih sayang. Penyebabnya ialah hilangnya kurikulum cinta di rumah.

Ibu dalam foto tersebut mengajarkan kurikulum yang tidak tertulis di buku, yaitu kurikulum pelukan. Rasulullah SAW adalah sosok yang gemar memeluk kedua cucunya, Hasan dan Husain. Ketika seorang Badui melihat Rasulullah mencium cucunya, ia berkata, "Aku mempunyai sepuluh anak, tetapi tidak pernah satu pun kucium." Rasulullah pun bersabda, "Barang siapa tidak menyayangi, niscaya ia tidak akan disayangi." (H.R. Bukhari).

Cinta ibu kepada anak-anaknya merupakan wujud kasih sayang yang diajarkan Rasulullah. Cinta itu tidak diukur dari mahalnya gawai yang dibelikan, melainkan dari kehadiran, pelukan, dan tawa bersama seperti potret keluarga berbalut putih dan jingga tersebut.

2. Cinta yang Tidak Tersekat oleh Ruang dan Waktu

Apa yang membedakan cinta ibu dengan cinta lainnya dalam perspektif Islam?

Cinta ibu bersifat transendental. Sejak anak masih dalam kandungan, ibu telah berdialog dengan Allah demi keselamatannya (Q.S. Luqman: 14). Ketika anak telah dewasa dan merantau, baik ke Karawang, Jakarta, maupun ke luar negeri, doa ibu tetap menjadi kata sandi langit yang tidak pernah kedaluwarsa.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menulis bahwa ada tiga doa yang mustajab tanpa penghalang: doa orang yang terzalimi, doa musafir, dan doa ibu untuk anaknya.

Ketika seseorang terpuruk di perantauan, keselamatannya sering kali bukan hanya karena kerja keras, melainkan karena ada seorang ibu di kampung yang setiap pukul tiga pagi bangun untuk tahajud dan menyebut namanya.

Cintanya tidak tersekat oleh jarak, tidak lekang oleh waktu. Bahkan ketika ibu telah wafat, cintanya menjelma menjadi warisan doa dan didikan yang mengalir sebagai amal jariah.

3. Kasih Sepanjang Masa hingga Hari Kemudian

Inilah puncak keindahan Islam dalam memandang sosok ibu.

Kasih ibu tidak berhenti di dunia. Pada hari kiamat kelak, ketika setiap manusia sibuk dengan urusannya masing-masing (nafsi-nafsi), seorang ibu masih mencari anaknya untuk memberikan syafaat kebaikan.

Oleh karena itu, tugas anak bukan hanya membahagiakan ibu di dunia melalui foto studio atau seragam yang serasi. Tugas anak adalah memastikan cinta itu berlanjut hingga hari kemudian, yakni dengan menjadi anak yang saleh dan salihah.

Anak yang saleh merupakan bukti keberhasilan cinta ibu. Anak yang saleh adalah pelita yang akan menerangi kubur ibunya.

Putihnya Kaus, Jingganya Sepatu, dan Cinta yang Tak Lekang oleh Waktu

Foto keluarga berbaju putih dan sepatu jingga itu mungkin akan menguning dalam dua puluh tahun. Namun, apabila cinta yang diajarkan ibu hari ini adalah cinta karena Allah SWT., foto tersebut akan menjadi saksi di hadapan-Nya.

Untuk para ibu di Karawang dan di seluruh penjuru negeri: teruslah menjadi pelita. Rumah boleh sederhana, kaus boleh polos, tetapi cahayamu adalah cahaya yang menjaga peradaban Islam tetap menyala.

Untuk para anak: jangan tunda untuk memeluk ibu. Surga itu tidak jauh di angan-angan. Surga itu ada di rumah, sedang memeluk dengan tawa yang tulus.(*).

Hide Ads Show Ads