Siswa Indonesia Pelajari Simulasi Mitigasi Bencana Jepang
Siswa Indonesia belajar dan merasakan langsung bagaimana upaya pengurangan dampak gempa dari profesional Jepang di Kota Meguro, Jepang. Seluruh siswa Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT) mendapatkan pembelajaran kreatif mitigasi bencana itu dari Pemerintah Jepang, Rabu (27/9/2023).
Pembelajaran berlangsung di Departemen Pemadam Kebakaran Kota Meguro. Wali Kota Meguro Eiji Aoki merasa senang atas partisipasi siswa SRIT dalam mempelajari pelbagai upaya mengurangi dampak bencana.
"Apalagi, Meguro merupakan salah satu wilayah dengan jumlah orang asing terbanyak yang berasal dari 125 negara berbeda. Karena itu, upaya memastikan keamanan dan keselamatan seluruh warga harus menjadi prioritas agar tidak banyak korban berjatuhan saat bencana melanda," kata Eiji saat menyampaikan sambutan di Aula Olahraga SRIT.
Pemerintah Jepang memiliki program latihan siaga bencana bagi seluruh siswa dari semua jenjang pendidikan yang diselenggarakan secara rutin. Tahun ini, SRIT memperoleh rangkaian agenda yang lengkap, termasuk menjajal semua simulasi di Departemen Pemadam Kebakaran Kota Meguro.
Para siswa diajar menggunakan alat pemadam kebakaran, seperti fire extinguisher dan mengikuti simulasi kebakaran di ruangan penuh asap. Mereka juga menikmati tayangan interaktif serta aktif berdiskusi mengenai gempa.
Para siswa sempat mencoba mobil simulasi gempa dengan skala magnitudo yang berbeda-beda. Fariz Aditya Ramadhan, siswa Kelas 12, senang dapat menikmati pembelajaran langsung mengenai mitigasi bencana.
"Salah satu yang paling berkesan buat saya adalah saat berada di mobil simulasi gempa yang guncangannya seperti gempa berskala 7 Magnitudo. Di situ semua orang sadar bahwa gempa bumi merupakan bencana yang sangat serius dan harus dihadapi dengan cara yang benar dan serius pula," kata Fariz.
Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Tokyo Yusli Wardiatno menyebut pembelajaran kreatif mitigasi bencana dari Pemerintah Jepang ini penting. Seluruh siswa harus serius mempelajari cara warga Jepang menghadapi bencana serta mengurangi dampak yang ditimbulkannya.
"Praktik baik dari Jepang harus kita adopsi, khususnya dalam hal mengurangi jatuhnya korban dari bencana yang terjadi. Sebab, meski Jepang memiliki frekuensi bencana alam yang tinggi, jumlah korbannya tidak lebih banyak daripada yang ada di tanah air. Saya berharap pelatihan semacam ini bisa dilakukan secara regular tiap tahun," kata Atdikbud yang juga guru besar pada Departemen Manajemen Sumber Daya Perairan di Institut Pertanian Bogor.
Kepala SRIT Ari Driyaningsih mengapresiasi semua pihak yang terlibat dalam pembelajaran kreatif bagi para siswanya. Ia berharap, para peserta didik dapat memanfaatkan momen itu untuk belajar dan menyerap semua informasi baik yang disampaikan.
"Semoga kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran para siswa akan bencana alam sekaligus menjadi pemantik agar mitigasi bencana diobrolkan di lingkungan keluarga," ucapnya.
Model pembelajaran kreatif mitigasi bencana ini merupakan agenda yang digagas organisasi kepemudaan Junior Chamber International (JCI). JCI adalah organisasi nirlaba yang diketuai Eita Aoki, anak Wali Kota Meguro.
Organisasi ini menyasar para pemuda agar mampu mengatasi persoalan lingkungan, termasuk memitigasi bencana alam.(**)
