Breaking News
---

BI Sebut Perubahan Global Makin Sulit Diprediksi

 Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, kondisi global yang makin tidak menentu membutuhkan respon cepat untuk mengantisipasinya. Hal tersebut terjadi dalam tiga pekan terakhir akibat pengaruh tensi geopolitik di Timur Tengah antara Zionis Israel dan Hamas di Gaza, Palestina.

BI Sebut Perubahan Global Makin Sulit Diprediksi

"Dinamika global terjadi sangat cepat dan tidak terduga, utamanya di dua minggu terakhir. Dan ini dikonfirmasi dalam pertemuan Bank Dunia dan IMF di Maroko pekan kemarin," kata Perry dalam keterangan pers hasil Rapat Dewan Gubernur BI di Jakarta, Kamis (19/10/2023).

Menurut Perry, ada lima dinamika global yang menyebabkan perubahan sangat cepat. Pertama, pertumbuhan ekonomi global yang akan melambat, dan pertumbuhan ekonomi yang tidak merata diantara negara-negara maju.

Pertumbuhan ekonomi global tahun ini 2,9%, tahun 2024 menurun menjadi 2,8 persen. Pertumbuhan ekonomi AS tahun ini masih kuat tapi tahun depan diproyeksikan akan melambat, sementara Cina pertumbuhan sudah melambat.

"Karena perlambatan itu, negara-negara di seluruh dunia harus mendorong permintaan domestik. Supaya perekonomiannya dapat tumbuh tinggi," ujar Perry.

Kedua, meningkatnya ketegangan geopolitik yang menyebabkan masih tingginya harga pangan dan naiknya harga minyak mentah dunia. Kondisi itu menghambat penurunan inflasi global.

Ketiga, suku bunga di negara maju termasuk di AS akan higher for longer, artinya suku bunga tidak naik pun levelnya masih tinggi hingga paruh pertama tahun depan. Suku bunga di AS, menurut perkiraan BI, baru akan menurun di paruh kedua tahun 2024.

Keempat, terjadinya term premia, yaitu perbedaan suku bunga surat utang tenor jangka panjang dan jangka pendek. Saat ini suku bunga  surat utang  jangka panjang negara-negara maju mulai ikut naik, karena kebutuhan utang negara-negara yang makin besar.

Kelima, kenaikan suku bunga surat utang jangka panjang di negara-negara maju, menyebabkan aliran keluar modal asing dari negara emerging ke negara-negara maju utamanya AS. Sehingga mata uang dollar menguat, dan berimbas pada pelemahan mata uang negara lainnya, termasuk rupiah.(*)

Baca Juga:
Posting Komentar
Tutup Iklan