*GfOoTUz6TpM6Tfr9TUYpTpC6BY==*

Hamas: Warga Gaza Tidak Akan Pindah ke Mesir

Ismail Haniyeh, Kepala Biro Politik Hamas, mengatakan tidak akan ada migrasi dari Gaza atau Tepi Barat ke Mesir. Ia menegaskan warga Palestina sudah sangat mengakar dengan tanah air mereka.

Warga Palestina

“Kami akan melanjutkan perjuangan kami sampai negara kami berdiri, tawanan dan tempat-tempat suci kami dibebaskan, dan para pengungsi kami kembali ke rumah mereka,” katanya dalam pidato yang disiarkan televisi, Sabtu kemarin,(14/10/2023).

Haniyeh juga menekankan bahwa Hamas tidak menargetkan anak-anak dan warga lansia, seperti dikutip dari Anadolu Agency, Minggu (15/10/2023). Dia sekaligus menyerukan peningkatan aksi demonstrasi mendukung Gaza baik dalam skala lokal maupun global.

Ismail Haniyeh, Kepala Biro Politik Hamas

Pernyataan ini bagian dari responsnya atas perintah militer Israel yang mendesak warga Gaza melakukan evakuasi. Israel mengeluarkan perintah evakuasi bagi warga Gaza pada Kamis (12/10/2023), termasuk rumah sakit, menyusul kemungkinan perang darat intensif.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengecam keras perintah berulang Israel yang meminta 22 rumah sakit melakukan evakuasi. Lebih dari 2.000 pasien rawat inap tengah menjalani perawatan di rumah sakit tersebut yang berada di Gaza utara. 

"Memaksa lebih dari 2.000 pasien untuk pindah ke Gaza selatan, di mana fasilitas kesehatan sudah beroperasi pada kapasitas maksimum dan tidak mampu menampung peningkatan jumlah pasien secara dramatis, bisa sama saja dengan hukuman mati," kata WHO dalam keterangannya, Sabtu.

Nyawa banyak pasien yang sakit kritis dan rapuh berada dalam bahaya. Banyak di antara mereka berada dalam perawatan intensif atau bergantung pada alat bantu hidup. 

Ada pasien yang menjalani hemodialisis atau bayi yang baru lahir dan berada dalam inkubator. Terdapat sejumlah wanita dengan komplikasi kehamilan bakal menghadapi kondisi semakin buruk atau kematian jika terpaksa dipindah.

Fasilitas kesehatan di Gaza utara juga terus menerima gelombang pasien terluka dan kesulitan beroperasi melebihi kapasitas maksimumnya. Ini belum ditambah dengan para direktur rumah sakit dan petugas kesehatan yang kini menghadapi pilihan yang sulit

"Menelantarkan pasien yang sakit kritis di tengah kampanye pengeboman, mempertaruhkan nyawa mereka sendiri sambil tetap berada di lokasi untuk merawat pasien, atau membahayakan nyawa pasien ketika mencoba membawa mereka ke fasilitas yang tidak ada lagi kapasitas untuk menerimanya. Banyak sekali pemberi layanan kesehatan yang memilih tetap tinggal, dan menghormati sumpah mereka sebagai profesional kesehatan untuk 'tidak melakukan tindakan yang merugikan', ketimbang mengambil risiko memindahkan pasien mereka yang sakit kritis selama evakuasi," kata WHO. 

WHO menegaskan para petugas kesehatan tidak boleh didesak untuk mengambil pilihan yang mustahil seperti itu. WHO menyerukan agar Israel segera membatalkan perintah evakuasi bagi rumah sakit di Gaza utara.

WHO juga mendesak diberikan perlindungan terhadap fasilitas kesehatan, petugas kesehatan, pasien, dan warga sipil. WHO juga menegaskan kembali seruannya untuk pengiriman pasokan medis dan bantuan kemanusiaan lainnya melalui Rafah.

Saat ini bantuan tersebut sudah berada di dekat Gaza. Namun, blokade Israel di Rafah membuat bantuan tersebut tertahan.(*)

Komentar0