GfOoTUz6TpM6Tfr9TUYpTpC6BY==

Meriah Banget, Pesta Panen Raya Padi di Desa Pancakarya Karawang Diisi Sedekah Bumi

Tradisi Sedekah Bumi masih terselenggarakan pada sejumlah desa atau daerah di Provensi Jabar seperti di wewengkon Ciamis, Karawang, Subang, Lembang, Bandung dan sekitarnya. (14/1/24).

Foto : Peserta Lomba Gejud Lisung

Tradisi Sunda ini disebut juga dengan Ngaruwat atau Hajat Bumi yang memiliki arti merawat bumi. Ngaruwat adalah berasal dari bahasa Sunda dari kata ruwat yang memiliki arti merawat atau menjaga. Istilah dari tradisi ini memiliki tujuan untuk mengajak masyarakat sekitar untuk mengumpulkan hasil bumi dan berdoa, atau sebagai representasi rasa syukur kepada Allah SWT disisi lain sebagai bentuk penghormatan dan menghargai kepada jasa para leluhur Sunda selain mempertahankan kearifan lokal, lestrasi sosial budaya dan mempereat silahturami antar antar warga.

Demikian dikatakan awal H.Asep Sugiarto Kades Pancakarya, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Karawang di acara Sedekah Bumi desa setempat, pada Sabtu malam,(13/1/24)

Lebih jelas Asep menjelaskan, proses tradisi ini tidak jauh berbeda dengan proses yang diselenggarakan oleh masyarakat di daerah atau desa asal munculnya tradisi ini.

Sekilas sejarah tradisi Sedekah Bumi, menurut satu narasumber tradisi ini dipercaya berawal dari penyebaran agama Islam di tanah Jawa dengan media wayang kulit oleh Sunan Kalijaga. Dalam pagelaran wayang kulit tersebut diselipkan makna atau pesan-pesan tentang materi keislaman yang mudah dimengerti oleh masyarakat awam.

Juara Gejud Lisung Dusun Bengle

Ada pula narasumber lain sebutkan tradisi Sedekah Bumi untuk daerah Jawa Barat berasal dari Jagabaya di Kabupaten Ciamis. Cikal bakalnya hampir sama untuk tradisi ini digelar untuk menyambut Tahun Baru Islam atau setahun sekali pada awal bulan Muharram atau pesta panen raya jelang tanam kembali. Lebih lengkapnya, tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur petani kepada Allah SWT yang Maha Esa atas hasil pertanian atau hasil bumi juga siar Islam.

Kembali ke Kades Pancakarya menjelaskan, proses Sedekah Bumi diawali dengan mengumpulkan masyarakat di suatu tempat atau Balai Desa, kemudian masing-masing dari warga membawa hasil pertanian yang sudah di olah maupun belum dan utama dalam acara ini adalah bermunajat kepada Allah SWT.

Foto : Saat Santuan Yatim Piatu

Lalu untuk di Desa Pancakarya Sedekah Bumi, kami juga mengadakan sejumlah agenda di antarnya lomba Kupret (tabuh Lisung,red) antar dusun untuk kaum ibu-ibu , hiburan rakyat, dan utama adalah menggelar santunan untuk yatim Piatu Satu Desa dan beristiqosah serta bersholawat bersama pada malam Minggu (14/1/24). Di agenda ini dihadirkannya semua tokoh agama, masyarakat, perangkat desa, warga desa setempat termasuk mengundang ke jajaran Muspika Kecamatan Tempuran.


Lebih lanjut Asep menjelaskan, di hari minggu atau pada acara puncak tradisi Hajat Bumi atau Sedekah Bumi di Pancakarya (14/1/24), masyarakat akan melakukan arak-arakan keliling kampung yang dipimpin oleh para sesepuh, atau tokoh desa serta lainnya. Dan saat itu, masyarakat juga ikut merayakan tradisi Sedekah Bumi dengan memperebutkan gantungan hasil bumi yang diarak dan itu tujuan ingin menghibur lahir bahtin, bentuk tasyakuran bin ni'mah, (siar Islam secara nyata dengan memperlihatkan persatuan antar umat atau rakyat dengan pemerintah,red). Karena sejatinya, siar Islam itu banyak bentuknya di antaranya dengan tetap menjaga silahturhami antar umat, menjaga persatuan dan kesatuan serta mencintai Tanah Air (desa sendiri,red). Dan sejumlah tujuan Sedekah Bumi tadi tergolong atau masuk sebagai tanda-tanda orang yang beriman Kepada Allah SWT, bebernya, menjelaskan.

Tak itu saja , sambung Asep Sugiarto, selain memiliki pengharapan dan tujuan yang bagus yaitu merepresentasikan rasa syukur serta memberi penghormatan kepada leluhur. Sedekah Bumi bakal mampu pula menarik datangnya para wisatawan ke wilayah Desa Pancakarya.

Perlu diketahui pula, timpalnya lagi, di wilayah Desa Pancakarya saat ini memiliki dua obyek wisata kekinian yang terkenal yakni Bebek Goes di Situ Buer, yang berada Dusun Buer dan Tempat Pacuan Kuda berlokasi di Dusun Bengle, pungkas Asep, mengakhiri keteranganya.

Pantia acara Sedekah Bumi Pancakarya, Andi Mulyadi, di tempat yang sama mengatakan, acara yang digelar sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Maha Kuasa karena telah memberikan bumi tempat kita berpijak dengan segala rezeki berupa hasil bumi untuk keberlangsungan hidup manusia.

Sedekah bumi, ditegaskannya, juga diartikan sebagai sarana memanjatkan doa, agar selalu diberi keselamatan dan dijauhkan dari bencana. Tradisi sedekah bumi ini, merupakan salah satu bentuk ritual tradisional masyarakat Karawang yang sudah berlangsung secara turun-temurun dari nenek moyang terdahulu.

Kami para penerus dari leluhur Sunda yang berada di Desa Pancakraya tentunya ingin melestrarikan warisan budaya dan kearifan lokal serta dipastikan bakal menghindari hal-hal yang sifat modorot atau kemusyrikan dalam setiap isi agenda acara. Karena pada dasarnya, acara ini pun hasil musyarawah mufakat antar para tokoh agama dan masyarakat termasuk melibatkan ulama dan umaroh, dengan harapan seperti tadi dilontarkan oleh pak Kades H. Asep Sugiarto, dan utamanya mengajak berdoa bersama sebagai bentuk syukur nikmat dan mendambakan keberkahan hidup dunia dan akhreat, demikian terucapkan oleh Andi Mulyadi selaku Pantia Hajat Bumi di Desa Pancakarya.

Foto : Pengobatan Masal Gratis

Sebagai bahan informasi untuk rentetan kegiatan silakan lihat pada gambar dbawah ini !(*)

Komentar0