*GfOoTUz6TpM6Tfr9TUYpTpC6BY==*

Sejarah Lampion pada Perayaan Imlek

Dalam semarak perayaan Tahun Baru Imlek, tidak ada yang lebih ikonik daripada barisan lampion yang menghiasi langit malam. Terkenal dengan pancaran hangat warna-warninya, lampion-lampion ini bukan sekadar hiasan. 

Sejarah Lampion pada Perayaan Imlek

Lampion wujud kekayaan tradisi penuh makna yang telah diwariskan turun-temurun sejak Dinasti Han. Yaitu berkisar tahun 206 Sebelum Masehi hingga 220 Masehi. 

Dikutip dari berbagai sumber, kisah lampion Imlek bermula dari ritual keagamaan. Menurut sejarah, pada hari ke-15 Imlek, para biksu Buddha akan menyala-nyalakan lentera sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Buddha. 

Dari tindakan sakral ini, praktik menyalakan lentera kemudian menyebar luas dan diserap ke dalam budaya Tionghoa. Hal ini pun menjadi bagian tak terpisahkan dari Festival Lentera atau Yuan Xiao. 

Festival ini tidak hanya memanjakan mata dengan bertabur lampion. Tapi juga dihiasi atraksi tarian singa dan naga yang meriah, serta parade dan dentuman kembang api yang merdu.

Legenda lampion sendiri erat kaitannya dengan keselamatan sebuah kota dari murka Kaisar Langit. Kaisar berniat menghancurkannya dengan api karena kematian seekor angsa. 

Namun, dengan bijak dan cermat, warga kota menyelamatkan diri dengan bantuan peri yang memberi ide untuk mengelabui sang kaisar. Yaitu dengan cahaya lampion, sehingga tradisi tahunan menyalakan lampion pun tercipta. 

Sejarah Lampion pada Perayaan Imlek

Lampion, dalam bahasa Mandarin adalah "Denglong", sebuah kata yang mengandung arti penerangan. Dominasi warna merah pada lampion bukan tanpa alasan.

Warna ini dipercaya memancarkan energi kemakmuran, persatuan, dan keberuntungan. Kepercayaan akan kekuatan lampion bahkan merambah pada pemikirania sanggup menerangi jalan rezeki dan mengusir Roh Jahat Nian. 

Beraneka lampion telah didesain, masing-masing dengan keunikan tersendiri. Palace lantern yang megah, Gauze lantern  sederhana namun elegan, dan Shadow-picture lantern menghidupkan kisah-kisah melalui pantulan bayangan. 

Ketiga jenis lampion tersebut tidak hanya mendekorasi, tapi juga menerangkan tentang kekayaan budaya dan filosofis Tiongkok yang mendalam. Melalui refleksi dan penerangan, lampion-lampion tersebut menjadi lebih dari sekedar tradisi.

Mereka adalah pembawa cahaya yang membimbing kita melintasi jembatan antara masa lalu yang agung dan masa depan yang cerah. Di setiap Festival Lentera, ketika malam diterangi oleh ribuan lampion, kita diingatkan akan kekuatan cahaya dan harapan.(*)

Komentar0