Breaking News
---

Kurikulum Merdeka di Daerah 3T Diterapkan Bertahap

Penerapan Kurikulum Merdeka akan dilakukan secara bertahap di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Kemendikbud-Ristek menargetkan, kurikulum tersebut baru akan diterapkan secara nasional pada 2028 mendatang. 

Kurikulum Merdeka di Daerah 3T Diterapkan Bertahap

Demikian disampaikan Penjabat (Pj) Fungsional Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Kemendikbud-Ristek, Farah Arriani di Manokwari, Papua Barat, Kamis (4/7/2024). "Sekarang ini masih masa transisi, (Jadi) satuan pendidikan di daerah 3T diberikan kesempatan pakai kurikulum lama sampai 2028," katanya.

Ia menjelaskan, Kemendikbudristek telah meluncurkan aplikasi Awan Penggerak. Aplikasi tersebut untuk mengakselerasi kompetensi pendidikan dan tenaga pendidik di wilayah yang terkendala jaringan internet.

Aplikasi tersebut menyediakan berbagai informasi tentang Kurikulum Merdeka yang dapat diakses oleh satuan pendidikan secara offline atau luring. Seperti Platform Merdeka Mengajar (PMM) dan sumber lainnya.

"Aplikasi Awan Penggerak tidak hanya sediakan informasi berbentuk platform. Tapi ada narasumber berbagai berpraktik baik yang bisa diakses sekolah 3T," kata Farah.

Menurutnya, Kurikulum Merdeka lebih difokuskan pada materi yang esensial. Sehingga kegiatan belajar dan mengajar di sekolah akan disesuaikan dengan potensi dari masing-masing siswa.

Untuk itu, lanjutnya, setiap satuan pendidikan harus mengedepankan proses asesmen. Guna memperoleh data dan informasi dari kegiatan pembelajaran sebelum menerapkan Kurikulum Merdeka.

"Supaya apa yang dibutuhkan peserta didik bisa diketahui. Kalau Kurikulum 2013 lebih ditekankan ke kompetensi dasar sesuai tahapan," ucap Farah.

Kepala Balai Guru Penggerak (BGP) Papua Barat Tuning Supriyadi mengatakan, pemanfaatan Awan Penggerak terus dioptimalkan. Di antaranya melalui pendampingan berkala bagi guru-guru daerah 3T.

Pendampingan tersebut merupakan tahap lanjutan dari pelatihan yang diselenggarakan pada Desember 2023. Guna meningkatkan kemampuan guru mengoperasikan chromebook sebagai sarana mengakses Awan Penggerak.

"Setelah pelatihan, kami monitor. Sejauh mana penerapan di sekolah yang tidak ada jaringan internet," ujar Tuning.(*)

Baca Juga:
Posting Komentar
Tutup Iklan