Kembali Banjir di Bayalangu Kabupaten Cirebon
Forkopimda Kabupaten Cirebon yang dipimpin Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Cirebon, Hilmy Rivai, gerak cepat meninjau langsung wilayah Kecamatan Arjawinangun dan Gegesik yang terdampak banjir, Kamis (16/1/20224).
Saat meninjau lokasi banjir, Hilmy menegaskan pentingnya mencari solusi untuk mengatasi banjir yang sering melanda wilayah tersebut.
Hilmy juga menekankan upaya konkret berupa normalisasi sungai untuk mengatasi penyempitan dan pendangkalan yang menjadi penyebab utama banjir.
Pemerintah Kabupaten Cirebon telah menyiapkan anggaran sebesar Rp1 miliar untuk pengerjaan sepanjang 1,3 kilometer di sungai pada tahun ini. Namun, menurutnya Hilmy, solusi ini masih belum cukup untuk menangani masalah banjir.
Sementara Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik, BPBD Kabupaten Cirebon, Juwanda mengatakan banjir itu terjadi setelah hujan deras mengguyur sejak Rabu 15 Januari 2025.
Menurutnya sumber air berasal dari kiriman limpasan Sungai Wanganayam Kecamatan Susukan dengan ketinggian sekitar 70 sentimeter yang meluas dan menggenangi Kecamatan Arjawinangun dan Bayalangu Kecamatan Gegesik.
"Kiriman dari wilayah selatan hujan yang intensitasnya tinggi dan agak lama durasinya terus daya tampungnya kurang sungai-sungainya, masuk ke wilayah Kecamatan Arjawinangun juga daya tampung atau salurannya sama begitu," katanya.
Setelah itu, ungkap Juwanda, air meluas menuju ke wilayah yang lebih rendah seperti Bayalangu Kidul, dan disana terdapat saluran air, pipa dan jembatan yang letaknya lebih rendah.
"Biasanya kalau air kiriman itu ada segala macem yang kebawa ke salutan. Akhirnya mentok tidak terbawa dan masuk kedalam bawah jembatan, ya terhambat juga dan melimpas ke daerah sekitarnya terjadilah banjir," ujarnya.
Juwanda menambahkan BPBD Kabupaten Cirebon melakukan assessment kejadian banjir untuk mengetahui penyebab dan dampak yang ditimbulkannya.
Sejumlah fasilitas umum seperti kantor pemerintah kecamatan, upt damkar dan pu, sekolah SD , musholah serta sawah.
"Kondisi ini telah membuat aktivitas warga lumpuh, termasuk kegiatan belajar-mengajar yang terganggu akibat sekolah terendam air," ujarnya.(*)
