Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News
WEB UTAMA

Rupiah Potensi Menguat Awal Pekan, Naik 0,04 Persen

Jakarta: Pergerakan nilai tukar Rupiah menguat terhadap Dolar AS saat pembukaan perdagangan hari ini, Senin (24/11/2025). Melansir data Bloomberg, Rupiah terpantau naik 0,04 persen atau 6 poin menjadi Rp16.710 per Dolar AS.

Lembaran uang rupiah bergambar pahlawan nasional (Foto: Dokumentasi Bank Indonesia)
Lembaran uang rupiah bergambar pahlawan nasional (Foto: Dokumentasi Bank Indonesia)

Pada penutupan perdagangan akhir pekan kemarin, Rupiah juga menguat 0,12 persen menjadi Rp16.716 per Dolar AS. "Rupiah berpotensi menguat terhadap Dolar AS hari ini," kata Analis Pasar Uang, Lukman Leong dalam keterangan persnya, Senin (24/11/2025).

Menurut Lukman, penguatan Rupiah terhadap Dolar AS ini didorong oleh sentimen pasar yang membaik. Terutama, dari kekhawatiran terjadinya 'bubble' kecerdasan buatan (AI). 

Namun, menurut Lukman, tensi Tiongkok-Jepang yang memanas akan membatasi penguatan Rupiah hari ini. Termasuk prospek pemangkasan suku bunga the Fed yang makin menurun, juga akan membatasi penguatan. 

"Suku bunga The Fed yang makin menurun, juga akan membatasi penguatan. Rupiah diperkirakan akan bergerak di rentang Rp16.660-Rp16.750 per Dolar AS," ucap Lukman.

Sementara, Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto mencermati, aliran keluar modal asing yang masih terjadi. Terutama arus modal keluar dari aksi jual obligasi pemerintah Indonesia (SBN) oleh para investor asing.

"Hal ini menurut kami masih menjadi risiko yang dapat mempengaruhi nilai tukar Rupiah," ucap Rully. Saat ini, menurutnya, proporsi kepemilikan asing di SBN terhadap total outstanding SBN hanya 13,36 persen, terendah sepanjang sejarah.

Rully juga mencermati perubahan ekapektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga The Fed. Ekspektasi yang semula menurun hingga 39,1 persen, melonjak kembali hingga 71 persen pada Jumat (21/11/2025).

"Perubahan signifikan itu disebabkan oleh perkembangan data ekonomi AS yang sempat tertunda rilisnya karena dampak 'shutdown'. Setelah shutdown berakhir dan data ekonomi mulai kembali dirilis, pasar kembali menilai probabilitas penurunan FFR secara lebih realistis," ujar Rully.

Penilaian pasar, tambah Rully, sesuai dinamika fundamental ekonomi terbaru. Diantaranya data tingkat pengangguran di AS yang meningkat menjadi 4,4 persen di bulan September 2025.(*)

WEB UTAMA
Hide Ads Show Ads