Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Cabai Rawit Harganya Melangit Hingga 200 Ribu Perkilonya

Jakarta: Harga cabai rawit nasional mengalami kenaikan signifikan hingga pekan ketiga Desember 2025. Komoditas ini menjadi perhatian karena lonjakan harga terjadi secara luas di seluruh negeri.(23/12/25).
Foto ilustrasi Cabe Rawit

Direktur Statistik Harga Badan Pusat Statistik (BPS), Windhiarso Ponco Adi Putranto, mengatakan kenaikan mencapai 52,86 persen dibandingkan November 2025. Menurut dia, harga cabai rawit juga telah melampaui harga acuan penjualan (HAP) di tingkat konsumen.

"Cabai rawit memang menjadi komdoditas yang perlu mendapat perhatian khusus," ujarnya di Jakarta, Senin (22/12/2025).

Menurut dia, sampai dengan pekan ketiga Desember 2025 harga cabe rawit naik cukup signifikan.

Rata-rata harga cabai rawit nasional saat ini tercatat senilai Rp66.841 per kilogram. Ini berarti naik dari Rp43.728 per kilogram pada bulan sebelumnya.

Namun, harga tersebut berada di atas HAP di tingkat konsumen batas atas Rp57 ribu per kilogram. Sementara batas bawah HAP di tingkat konsumen ditetapkan Rp40 ribu per kilogram.

Harga tertinggi cabai rawit tercatat di Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, mencapai Rp200 ribu per kilogram. Sementara harga terendah berada di Kisaran, Sumatra Utara, senilai Rp26.800 per kilogram.

Jumlah kabupaten kota yang mengalami kenaikan indeks perubahan Harga cabai rawit terus bertambah. Total tercatat 276 daerah mengalami kenaikan, naik dari 272 daerah pada pekan sebelumnya.

Sementara itu, Badan Pangan Nasional (Bapanas) melaporkan pasokan cabai terganggu arena faktor cuaca. Pemantauan di sentra produksi Magelang dan Sleman menunjukkan pertanaman komoditas tersebut berjalan normal, tetapi panen terhambat hujan.

Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Bapanas, Maino Dwi Hartono, menyatakan sebagian petani menunda panen. Menurut dia, kondisi tersebut mengurangi pasokan cabai ke pasar dan memicu kenaikan harga.

Maino mengaku telah mengecek langsung ke sentra-sentra cabai di Magelang, Jawa Tengah, dan Sleman, DI YOgyakarta. "Pertanaman maupun panen normal kondisinya, tetapi perubahan cuaca itu menyebabkan panenan para petani sebagian tidak bisa dilakukan," katanya.(*)

Hide Ads Show Ads