Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Penutupan Perdagangan, Rupiah Berbalik Merosot terhadap Dolar AS

Jakarta: Nilai tukar rupiah berbalik melemah terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 1,13 persen atau 21 poin menjadi Rp16.667 per dolar AS. 
Lembaran uang rupiah bergambar pahlawan proklamator (Foto:Dokumentasi Bank Indonesia)

Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, the Fed memberikan sinyal dovish (melunak) setelah memangkas suku bunga. “The Fed mengisyaratkan akan membeli obligasi pemerintah jangka pendek mulai bulan ini sebesar USD40 miliar,” kata Ibrahim, Senin (15/12/2025).

Pembelian obligasi oleh the Fed akan menambah likuiditas dengan suntikan dana tunai. Sehingga membuka peluang the Fed menerapkan kebijakan yang lebih longgar.

Fokus pasar minggu ini tertuju pada data pekerjaan non-pertanian di AS. Serta data indeks harga konsumen (CPI) untuk bulan November yang akan dirilis pada hari Selasa dan Kamis.

“Pasar akan mencermati tanda-tanda pelonggaran pertumbuhan pasar tenaga kerja dan pendinginan inflasi. Kedua data tersebut menjadi data yang menjadi pertimbangan utama the Fed dalam menentuka pemangkasan suku bunga,” ucap Ibrahim. 

Sementara itu dari sisi geopolitik, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy melakukan pembicaraan dengan utusan AS, Steve Witkoff. Witkoff mengklaim “banyak kemajuan tercapai dalam pembicaraan tersebut, tanpa menjelaskan detilnya.

Sementara itu, pemimpin oposisi Venezuela, Maria Corina Machado menjanjikan perubahan politik di negeri itu. Seiring ketegangan yang meruncing karena AS menyita kapal tanker Venezuela.

Di dalam negeri, Ibrahim mencermati prospek perekonomian global di tahun 2026. Sejumlah lembaga internasional memprakirakan perekonomian global bakal melambat, terfragmentasi dan sedang bertransformasi.

Lembaga-lembaga internasional itu antara lain Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, dan Bank Sentral Eropa. Termasuk Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memperkirakan muramnya perekonomian global tahun depan.

“Sehingga tahun 2026 berpotensi menjadi tahun yang paling tidak terduga dalam beberapa dekade terakhir. Kompetisi antara negara besar berpotensi semakin tajam, aliansi global berpotensi bergeser, dan konflik yang sebelumnya bersifat regional berpotensi meluas,” kata Ibrahim

Era suku bunga yang lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama juga berpotensi menjadi tekanan nyata bagi dunia usaha. Ditambah meningkatnya ketidakpastian sosial dan politik.(*)

Hide Ads Show Ads