Senator Minta Korban Insiden Mobil MBG Dirawat Optimal
Jakarta: Mobil Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menabrak sejumlah siswa dan seorang guru di SDN Kalibaru I, Cilincing, Jakarta Utara, Kamis (11/12/2025). Anggota DPD RI, Fahira Idris, menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden tersebut.
Fahira turut berduka dan mendoakan para korban agar segera pulih serta keluarga mereka diberi ketabahan. “Saya sangat prihatin dan berduka atas kejadian tragis ini," kata Fahira dalam keterangannya, Jakarta, Kamis (11/12/2025).
Senator asal Dapil DKI Jakarta ini menyebut, prioritas utama saat ini adalah memastikan semua korban mendapat perawatan medis terbaik hingga pulih. "Keluarga memperoleh pendampingan penuh, baik informasi, administratif, maupun psikologis,” ujar Fahira.
Sebagai aktivis perlindungan anak, Fahira menilai insiden ini menuntut langkah cepat dan terukur dari seluruh pemangku kepentingan. Ia merinci lima fokus penanganan yang harus segera dilakukanm
Pertama, ia meminta kepolisian mengusut tuntas penyebab kecelakaan, mulai dari potensi kelalaian, kesalahan prosedur, kondisi pengemudi, hingga kelaikan kendaraan. Ia menyoroti laporan awal yang menyebut sopir mobil tersebut adalah sopir pengganti, bukan sopir tetap.
Kedua, Fahira menekankan perlunya audit menyeluruh terhadap standar operasional SPPG. Termasuk mekanisme rekrutmen dan pelatihan sopir, verifikasi kompetensi dan kesehatan pengemudi, pengecekan kendaraan laik jalan, hingga kepatuhan prosedur pengantaran ke sekolah.
Berikutnya, yang ketiga, menurut Fahira, karena kendaraan dan sopir berada di bawah mitra pelaksana SPPG. Maka, pengawasan harus diperketat agar rekrutmen, pelatihan, dan pemeriksaan kendaraan benar-benar sesuai standar.
Ke empat, Fahira menilai perlunya evaluasi akses kendaraan operasional ke lingkungan sekolah. "Pintu masuk, jalur pengantaran, dan titik penurunan barang perlu ditata ulang agar kendaraan tidak memasuki area aktivitas siswa," ucapnya.
Lalu, yang kelima, ia mengingatkan bahwa insiden ini sangat berpotensi menimbulkan trauma. Karena itu, dukungan psikologis harus segera diberikan kepada korban maupun siswa yang menyaksikan kejadian.
“Evaluasi dan perbaikan menyeluruh agar seluruh pihak dapat bekerja lebih hati-hati dan terstandarisasi harus menjadi perhatian serius. Kita harus memastikan kejadian seperti ini tidak terulang di masa depan,” ujar Fahira.(*)

