Gelombang Ekstrim Melanda Pantai Pondok Bali Subang
Subang : Deburan ombak tinggi saling bersahutan yang terjadi di laut hingga ke pantai. Gelombang tinggi ini terjadi akibat cuaca ekstrem.
Gelombang ekstrem tersebut, yang melanda perairan pantai utara laut Jawa (Pantura) Subang, tepatnya di Pantai Pondok Bali Kecamatan Legonkulon Kabupaten Subang, Kamis 29 Januari 2026, dengan ketinggian gelombang kurang lebih 1,5 meter. Kondisi tersebut membuat aktivitas para nelayan di Pantai Pondok Bali terhenti, termasuk aktivitas warga yang berjualan di objek wisata Pantai Pondok Bali.
Ketua DPC Perkumpulan Nelayan Tradisional Indonesia (PNTI) Kabupaten Subang Ali Haerudin mengungkapkan, selama gelombang ekstrem terjadi, secara otomatis aktivitas nelayan yang melaut lumpuh. Meski ada beberapa nelayan yang memaksakan diri melaut, dengan menggunakan perahu bermesin di atas 5 groston.
Sedangkan untuk mesin groston di bawah 5, terpaksa harus menyandarkan perahunya. Mengingat risiko berbahaya kecelakaan di laut akibat gelombang tinggi.
"Kalau dia hari yang lalu sih, saya masih melihat ada beberapa perahu nelayan dengan mesin 5 groston, bersandar di TPI KUD Mina Fajar Sidik Blanakan, tapi di beberapa TPI atau KUD yang lainnya, termasuk di Mayangan Pondok Bali Legonkulon sih, saya gak pernah melihat ada perahu yang melaut. Terlebih gelombnag ekstrim yang terjadi hari ini," ungkap H. Ali Haerudin di Subang, Kamis 29 Januari 2029.
Selama hampir sepekan ini juga, lanjut Ketua DPC PNTI Kabupaten Subang, para nelayan mengalami paceklik. Karena tidak bisa melaut, akibat gelombang ekstrem yang terjadi hingga hari ini.
"Selama para nelayan tidak bisa melaut, akibat gelombang ekstrem yang terjadi, maka para nelayan di perairan Pantura Subang, dipastikan mengalami paceklik," ujarnya.
Terkait kondisi seperti ini, ia berharap, ada perhatian khusus bagi para nelayan yang terdampak gelombang ekstrem, untuk mendapat perhatian dari pemerintah. Sampai saat ini, diakuinya, belum ada perhatian khususnya bagi para nelayan terdampak gelombang ekstrem, khususnya dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Subang.
"Kalau korban terdampak banjir sih, yang saya tahu sudah beberapa kali menerima bantuan dari pemerintah daerah, tetapi bagi para nelayan hingga kini belum ada juga perhatiannya. Semoga saja dari KUD juga mereka mendapatkan dana paceklik, yang biasanya ada, dan diberikan saat paceklik seperti saat ini," terang H. Ali.
Dia juga mengimbau para nelayan, di cuaca gelombang ekstrem saat ini, jangan sampai nekat memberanikan diri melaut. Karena akan berisiko, dan mengancam jiwa para nelayan.
"Ya selama gelombang ekstrim ini berlangsung, saya imbau seluruh nelayan jangan memaksakan diri untuk melaut. Dari pada mengancam keselamatan jiwa, lebih baik diam di rumah saja. Semoga bantuan dari pemerintah, cepat datang," tandasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Subang Enda, juga sebelumnya mengingatkan para nelayan, agar tidak melaut, karena ada gelombang ekstrem. "Selama gelombang ekstrem terjadi di perairan Pantura Subang, saya imbau para nelayan untuk berhenti melaut," ujar Enda.
Ia juga berharao, gelombang ekstrim ini, bisa secepatnya mereda, dan para nelayan bisa kembali beraktivitas melaut. "Mudah-mudahan saja, gelombang ekstrim ini, bisa secepatnya reda, karena berdasarkan perkiraan BMKG, berakhir hari ini," pungkasnya.(*)
