IHSG Ditutup Melesat ke Level 8.748
Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) melesat dalam penutupan perdagangan hari ini. IHSG terpantau naik 1,17 persen atau 101 poin ke level 8.748.
Sebanyak 479 saham harganya naik, 200 saham harganya turun dan 131 harganya stagnan. “Saham sektor energi, bahan baku dan teknologi naik paling tinggi dan menjadi penopang penguatan IHSG,” kata Tim Analis Phillip Sekuritas Indonesia, Jumat (2/1/2026).
Volume saham yang diperdagangkan sebanyak 51,14 miliar lembar saham, dengan frekuensi perdagangan 3,12 juta kali transaksi. Total nilai perdagangan tercatat sebesar Rp22,36 triliun dan kapitalisasi pasar menjadi Rp16.043,68 triliun.
Sepanjang hari ini, indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan juga bergerak menguat. Saham-saham yang mendominasi penguatan adalah BUMI, JPFA, MBMA, GOTO dan MEDC
Di dalam negeri, sentimen pasar dipengaruhi rilis S&P Global Manufacturing. Indeks manufaktur (PMI) Indonesia turun ke level 51,2 di bulan Desember dari level 53,3 di bulan November 2025.
Indeks manufaktur Indonesia berada di level 53,3-yang merupakan level tertinggi-selama sembilan bulan berturut-turut. “Ini menandakan ekspansi selama lima bulan beruntun pada aktifitas di sektor manufaktur,” kata Tim Phillip Sekuritas.
Indeks Manufaktur Indonesia turun karena pertumbuhan pesanan baru dan perekrutan pekerja melambat. Sementara itu, penjualan ekspor merosot selama empat bulan beruntun.
Bersamaan dengan penguatan IHSG, indeks saham di kawasan Asia juga ditutup menguat hari ini. Indeks KOSPI, Korea Selatan mencatat rekor penutupan tertinggi, naik 2,27 persen dan menembus level psikologis 4.300.
Sedangkan sejumlah pasar saham di Asia masih tutup karena libur Tahun baru. Di antaranya bursa saham Jepang, Thailand, Selandia Baru dan Tiongkok.
Data S&P Global Purchasing Managers' Indexes (PMI) memperlihatkan meningkatnya aktivitas manufaktur di negara pengekspor teknologi tinggi Desember 2025. Terutama di negara Korea Selatan dan Taiwan, mengakhiri penurunan selama berbulan-bulan sebelumnya.
“Sedangkan sebagian besar negara di Asia Tenggara mempertahankan pertumbuhan atau ekspansi. Aktivitas manufaktur di Tiongkok secara terduga meningkat dipicu lonjakan pesanan menjelang liburan,” kata Tim Phillip Sekuritas menutup analisisnya.(*)


