Hari ini
Cuaca 0oC
Headline News :

IHSG Sempat Tembus Level 9.000 Lalu Jatuh Zona Merah, Ini Komentar Menkeu Purbaya

Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat mencapai level psikologis 9.000. Namun akhirnya ditutup turun ke zona merah ke level 8.925, melemah 0,22 persen atau 19 poin.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengomentari IHSG yang sempat tembus level 9.000 hari ini, usai memberikan keterangan pers APBN Kita di Kementerian Keuangan

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, IHSG yang tembus 9.000 menunjukkan kepercayaan investor pada fondasi perekonomian Indonesia. “Kalau mereka enggak percaya sama kita, meski saya ngomong sampai berbusa-busa, bursa tetap jatuh, investor enggak mau masuk,” ujarnya, Kamis (8/1/2026).

Menurutnya, arus masuk modal asing menunjukkan ada pembalikan sentimen dari investor global dan domestik terhadap perekonomian Indonesia. “Ke depan harus kita jaga terus, kalau begini tahun depan IHSG tembus 10.000 enggak susah-susah amat,” ucap Menkeu Purbaya.

Sedangkan pelemahan IHSG saat penutupan, menurut Tim Analis Phintraco Sekuritas, karena adanya aksi profit taking (ambil untung). Saham sektor bahan baku mencatatkan koreksi terbesar (-3,22 persen) akibat aksi ambil untung tersebut.

“Sebelumnya, saham sektor bahan baku sempat mengalami kenaikan signifikan (rally) selam beberapa hari. Sementara itu, saham sektor transportasi berbalik menguat sehingga membukukan penguatan terbesar mencapai 1,75 persen,” ujar Tim Phintraco.

Hari ini sebanyak 370 saham harganya turun, 302 saham harganya naik, dan 138 saham stagnan. Indek LQ45 yang berisi saham-saham unggulan juga melemah, didominasi pelemahan saham ANTM, ADMR, NCKL, MBMA dan MDKA.

Volume saham yang diperdagangkan sebanyak 55,14 miliar lembar saham, dengan frekuensi perdagangan sebanyak 3,84 juta kali transaksi. Total nilai perdagangan sebesar Rp29,06 triliun dan kapitalisasi pasar menjadi Rp16.332,87 triliun.

Sentimen investor pasar modal hari ini dipengaruhi oleh rilis data APBN 2025 yang defisit sebesar Rp695,1 triliun. Defisit tersebut mencapai 2,92 persen terhadap PDB.

“Defisit ABPBN 2025 lebih tinggi dari defisit tahun 2024 yang sebesar 2,3 persen dari PDB. Selain itu melampaui target defisit APBN 2025 yang sebesar 2,53 persen dari PDB,” ucap Tim Phintraco

Hari ini BI juga merilis posisi dagangan devisa Indonesia yang naik menjadi USD156,5 miliar pada Desember 2025. Jumlahnya meningkat dari USD150,1 miliar pada November 2025.(*)

WEB UTAMA
Hide Ads Show Ads