Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Koreksi IHSG Jadi Peluang, Fundamental Ekonomi Masih Kuat

Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu, 28 Januari 2026, dibuka di zona merah pada level 8.393,51, melemah lebih dari 6%. Aktivitas perdagangan hingga pukul 10.45 WIB sangat tinggi, dengan total volume transaksi mencapai 336,4 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp23,4 triliun.

sumber: Viory

Pelemahan IHSG dipengaruhi oleh pernyataan dan kebijakan terbaru Morgan Stanley Capital International (MSCI). Pada 27 Januari 2026, MSCI mengumumkan penerapan perlakuan sementara terhadap pasar Indonesia dengan membekukan sejumlah perubahan dalam proses peninjauan indeks.

MSCI menjelaskan langkah ini dilakukan untuk mengurangi risiko investasi serta memberi ruang bagi otoritas pasar Indonesia memperkuat aspek-aspek yang masih perlu ditingkatkan, terutama terkait transparansi struktur kepemilikan saham.

Para analis menilai koreksi IHSG sebaiknya tidak menimbulkan kepanikan. Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI), David Sutyanto, menekankan situasi ini bisa dimanfaatkan sebagai momentum perbaikan.

“Pasar modal Indonesia memiliki fondasi yang kuat, jumlah investor domestik yang terus bertumbuh, fundamental ekonomi yang relatif solid, serta emiten dengan kualitas bisnis yang kompetitif secara regional,” tulis David, Rabu (28/1).

Ia menambahkan, tantangan ke depan adalah memastikan infrastruktur regulasi, transparansi data, dan konsistensi kebijakan mampu mengimbangi kemajuan tersebut. Koreksi IHSG hari ini sebaiknya dipahami sebagai proses penyesuaian pasar terhadap informasi baru.

“Jika momentum ini dimanfaatkan dengan baik, bukan hanya status Indonesia sebagai Emerging Market yang dapat dipertahankan, tetapi kualitas pasar modal nasional justru dapat meningkat dan semakin dipercaya oleh investor global,” tambah David.

Pandangan serupa diungkapkan Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta. Ia menilai pelemahan IHSG hari ini kurang mencerminkan kondisi ekonomi Indonesia yang masih solid, sehingga penurunan indeks justru menjadi peluang investasi.

“Secara dinamika perekonomian, fundamental makroekonomi Indonesia sebenarnya masih solid,” tegasnya. “Dengan adanya penurunan IHSG ini, investor sebaiknya tidak panik dan dapat mempertimbangkan strategi buy on dip,” pungkas Nafan.(*)

Hide Ads Show Ads