Menkes Imbau Waspada Virus Nipah, Hindari Buah Terbuka
Jakarta : Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meminta masyarakat untuk waspada virus nipah menular lewat buah terkontaminasi gigitan kelelawar liar. Pasalnya, virus nipah dapat berpindah ke manusia melalui air liur kelelawar yang menempel pada buah yang terbuka.
![]() |
| Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin saat menghadiri Konferensi pers Operasi Jantung di RS Kardiologi Emirates Indonesia, Surakarta. (Foto: Humas Kemenkes) |
“Penyakit ini penularannya lewat buah yang sudah dimakan atau digigit kelelawar. Karena ludahnya masuk ke sana,” kata Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin saat diwawancarai di Solo, Jawa Tengah, Jumat, 30 Januari 2026.
Menkes Budi mengimbau masyarakat, termasuk warga Indonesia dan wartawan yang bepergian ke daerah berisiko. Hal ini dilakukan agar tidak mengonsumsi buah yang sudah terbuka.
“Kalau bisa jangan makan buah yang terbuka. Pilih jeruk yang tertutup, kupas sendiri. Atau lebih baik makan makanan yang dimasak matang,” ujarnya.
Meski hingga kini virus nipah belum ditemukan di Indonesia, Kemenkes telah menyiapkan langkah antisipasi dengan memperketat pemeriksaan kesehatan. Pemeriksaan difokuskan pada warga dengan gejala batuk berkepanjangan untuk memastikan penyebab infeksi.
“Karena ini belum masuk di Indonesia, sekarang kita siapkan screening, sama seperti Covid, masih pakai PCR, reagennya sudah kami siapkan. Kalau ada yang dicurigai batuk tidak sembuh-sembuh, kita screen untuk tahu apakah influenza, Covid, atau virus nipah,” ujar Menkes Budi.
Pemerintah juga belum menutup perbatasan karena kasus global masih terbatas, sejalan dengan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia. Namun Budi mengingatkan tingkat kematian akibat virus nipah tergolong tinggi.
“Fatality rate-nya tinggi. Kalau orang kena, kemungkinan meninggalnya tinggi,” kata Menkes Budi menutup.
Sementara, Badan Karantina Indonesia (Barantin) memperketat pengawasan lalu lintas komoditas hewan, tumbuhan, dan media pembawa lainnya. Hal ini dilakukan untuk mencegah masuk dan menyebarnya virus Nipah seiring meningkatnya laporan kasus di sejumlah negara Asia Selatan.
“Penguatan kewaspadaan dilakukan melalui pendekatan manajemen risiko, sistem karantina modern, serta sinergi lintas sektor. Langkah ini merupakan bagian dari upaya pencegahan penyakit hewan menular berbahaya agar tidak masuk dan menyebar di wilayah Indonesia,” kata kata Kepala Barantin Sahat Manaor Panggabean.(*)
