Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Perselihan Politik Makin Panas, Riyadh Tekan Yaman Hentikan Perang

Konfrontasi Arab Saudi-UEA Memanas, Upaya Dialog Damai Digelar di Tengah Eskalasi di Yaman Selatan.
situasi usai serangan Di yaman Timur (Foto: BBC News)

Karawang : Kementerian Luar Negeri Arab Saudi secara resmi mengundang faksi-faksi di Yaman Selatan untuk menghadiri pertemuan "dialog" di Riyadh Sabtu 3 Januari 2026.

Langkah ini diambil menyusul eskalasi militer yang menyeret Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) ke dalam konfrontasi langsung yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Ketegangan mencuat setelah aliansi yang semula bersatu melawan pemberontak Houthi kini terpecah.

Arab Saudi dan UEA, yang selama ini melakukan intervensi militer demi mendukung pemerintah Yaman yang sah, kini berada di pihak yang berseberangan dengan mendukung kelompok rival yang berbeda di lapangan.

Eskalasi Militer dan Perebutan Wilayah

Perpecahan ini semakin meruncing setelah Dewan Transisi Selatan (STC), kelompok separatis yang didukung UEA, meluncurkan serangan skala besar di wilayah timur Yaman sejak 2 Desember lalu. STC kini menguasai sebagian besar wilayah selatan, termasuk Provinsi Hadramawt yang kaya minyak dan berbatasan langsung dengan wilayah kedaulatan Arab Saudi.

"Konferensi komprehensif di Riyadh mendesak kehadiran seluruh faksi selatan guna membahas solusi adil bagi persoalan di selatan," demikian pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Arab Saudi melalui saluran media sosial mereka. Riyadh menegaskan bahwa undangan ini diterbitkan atas inisiatif pemerintah Yaman yang sah.

Ketegangan Diplomatik Dua Kekuatan Teluk

Konfrontasi fisik mulai terjadi pekan lalu. Pasukan STC menuding pasukan darat yang didukung Saudi meluncurkan serangan bersamaan dengan serangan udara oleh angkatan udara Saudi.

Sebaliknya, koalisi pimpinan Saudi menuduh UEA menyelundupkan peralatan militer ke pelabuhan Mukalla, yang kemudian memicu serangan udara terhadap target logistik tersebut.

Ketua Dewan Kepemimpinan Kepresidenan (PLC), Rashad al-Alimi, mengecam langkah STC sebagai sebuah "pemberontakan" yang mengancam stabilitas kawasan. "Dorongan separatis STC berisiko memecah belah Yaman dan menjerumuskan wilayah ini ke dalam kekacauan," tegas Alimi.

Analisis Pakar dan Dampak Kemanusiaan

Meski UEA menyatakan akan menarik pasukannya dari Yaman, para analis menilai pengaruh mereka tidak akan hilang begitu saja. Farea al-Muslimi, peneliti dari Chatham House, menjelaskan bahwa UEA telah membangun jaringan proksi yang kuat di lapangan.

"UEA tidak lagi memiliki kehadiran pasukan besar sejak 2019. Mereka mengandalkan pasukan khusus dan jaringan proksi. Penarikan fisik tidak serta merta mengubah kekuatan STC di lapangan," ujar Al-Muslimi kepada BBC News.

Ia menambahkan bahwa perbedaan kepentingan antara Riyadh dan Abu Dhabi sangat mendasar. "Arab Saudi memiliki perbatasan sepanjang 1.500 km dengan Yaman, sementara UEA tidak. Logika mereka di lapangan sangat berbeda," tambahnya.

Di tengah perselisihan politik ini, warga sipil menjadi pihak yang paling terdampak. Yaman kini menghadapi salah satu krisis kelaparan terburuk di dunia. PBB mencatat konflik ini telah merenggut ratusan ribu nyawa, baik akibat pertempuran langsung maupun dampak krisis kesehatan dan pangan.

Hingga berita ini diturunkan, faksi-faksi terkait masih mempertimbangkan undangan dialog tersebut, sementara situasi di perbatasan Saudi-Yaman tetap dalam status siaga tinggi.(*)

Hide Ads Show Ads