Eskalasi Timur Tengah: Iran Balas Serangan Udara
Teheran ; Teheran meluncurkan rudal ke pangkalan AS dan Israel sebagai respons atas pelanggaran piagam PBB dan korban sipil.
Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah Iran meluncurkan serangkaian serangan rudal balasan yang menargetkan posisi militer Israel dan sejumlah pangkalan udara Amerika Serikat di seluruh kawasan.
Langkah ini diambil Teheran menyusul operasi udara gabungan AS-Israel sebelumnya yang dituding telah melanggar kedaulatan wilayah dan hukum internasional.
Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa tindakan militer ini merupakan bentuk pembelaan diri yang sah sesuai dengan Piagam PBB.
Pihak Teheran menyatakan bahwa serangan udara lawan sebelumnya tidak hanya menargetkan infrastruktur militer, tetapi juga memicu tragedi kemanusiaan di Provinsi Hormozgan, di mana sebuah sekolah dasar dilaporkan terkena dampak fatal.
Kegagalan Diplomasi dan Dampak Kemanusiaan
Serangan balasan ini terjadi di tengah momentum negosiasi nuklir yang sangat sensitif.
Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, yang bertindak sebagai mediator utama, sebelumnya menyatakan optimisme bahwa kesepakatan damai sudah di depan mata.
Namun, eskalasi militer akhir pekan ini tampaknya menutup pintu diplomasi untuk sementara waktu.
Di ibu kota Teheran, meskipun citra satelit menunjukkan kerusakan signifikan pada beberapa kompleks pemerintahan, otoritas setempat memastikan bahwa jajaran kepemimpinan tertinggi, termasuk Ayatollah Ali Khamenei dan Presiden Masoud Pezeshkian, berada dalam kondisi aman.
"Sejauh yang saya ketahui, upaya provokasi ini gagal dan para pejabat dalam keadaan selamat. Kita mungkin akan menghadapi konflik yang lebih panjang, sehingga ketahanan nasional menjadi kunci," ujar Youssef Pezeshkian, putra Presiden Iran, melalui saluran komunikasi resminya Sabtu 28 Februari 2026.
Respons Regional dan Peringatan Global
Militer Iran mengonfirmasi bahwa target operasi mereka mencakup sejumlah pangkalan udara di Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Yordania, serta fasilitas Armada Kelima AS di Bahrain.
Hal ini memicu protes keras dari negara-negara teluk yang menganggap tindakan Iran sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan wilayah mereka.
Di sisi lain, pakar hukum internasional yang dekat dengan lingkaran diplomatik Iran, Reza Nasri, memberikan peringatan keras terkait konsekuensi jangka panjang dari keterlibatan asing dalam konflik ini.
Ia menyoroti potensi kerugian besar bagi kepentingan nasional dan keselamatan prajurit Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Situasi Domestik dan Ketahanan Nasional
Pemerintah Iran saat ini terus mengimbau warga sipil di kota-kota besar untuk tetap waspada.
Meski dibayangi kekhawatiran akan ketidakstabilan ekonomi, Dewan Keamanan Nasional menjamin ketersediaan kebutuhan pokok seperti bahan bakar dan obat-obatan tetap terjaga melalui layanan darurat 24 jam.
Langkah evakuasi mandiri yang disarankan pemerintah juga dipandang sebagai upaya untuk menjaga ketertiban umum di tengah potensi munculnya kembali aksi protes massa.
Kini, perhatian dunia tertuju pada bagaimana komunitas internasional, khususnya Dewan Keamanan PBB, akan merespons konfrontasi terbuka ini demi mencegah perang regional yang lebih luas.(*)


