FIFA dan Board of Peace Danai Gaza
Washington DC : Kolaborasi lintas lembaga ini menargetkan dana rekonstruksi melalui proyek infrastruktur olahraga dan pembangunan berkelanjutan pasca-konflik.
Board of Peace, sebuah badan yang dibentuk di bawah pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, resmi menggelar pertemuan perdana yang berfokus pada penggalangan dana rekonstruksi Gaza.
Inisiatif ambisius ini dirancang untuk memulihkan wilayah tersebut dengan syarat utama pelucutan senjata kelompok Hamas.
Sebagai langkah konkret pertama, federasi sepak bola dunia, FIFA, menandatangani nota kesepakatan dengan Board of Peace pada Kamis 19 Februari 2026.
Kemitraan ini bertujuan untuk menarik investasi dari pemimpin global serta institusi internasional guna mendorong pembangunan berkelanjutan di wilayah terdampak konflik melalui kekuatan olahraga.
Infrastruktur dan Ekonomi Lokal
Dalam rencana yang dipaparkan, FIFA berkomitmen untuk membangun fasilitas olahraga modern di Gaza, yang mencakup:
• 50 lapangan mini di sekitar kawasan sekolah dan pemukiman.
• 5 lapangan standar internasional yang tersebar di berbagai distrik.
• Akademi FIFA dengan teknologi terkini.
• Stadion Nasional baru berkapasitas 20.000 kursi.
Presiden Donald Trump menyatakan bahwa FIFA diproyeksikan bakal menghimpun dana sebesar 75 juta dolar AS untuk mendanai berbagai proyek terkait sepak bola tersebut.
"Hari ini, FIFA dan Board of Peace telah menandatangani kemitraan bersejarah yang akan mendorong investasi sepak bola demi membantu proses pemulihan di wilayah pasca-konflik," ujar Presiden FIFA, Gianni Infantino, dalam keterangan resminya.
Infantino menambahkan bahwa kerja sama ini didesain untuk memberikan dampak nyata pada setiap tahapan rekonstruksi.
Selain pembangunan fisik, program ini akan menitikberatkan pada penciptaan lapangan kerja, partisipasi pemuda, serta stimulasi aktivitas ekonomi lokal melalui liga terorganisir bagi laki-laki maupun perempuan.
Tantangan Diplomasi di Lapangan
Meski rencana ini menawarkan secercah harapan bagi pembangunan ekonomi, para analis menilai efektivitas dewan tersebut akan menghadapi ujian berat dalam beberapa bulan ke depan.
Isu krusial seperti teknis pelucutan senjata Hamas, penarikan pasukan Israel, hingga mekanisme penyaluran bantuan kemanusiaan bagi penduduk yang terdampak perang tetap menjadi tantangan diplomasi yang kompleks di meja perundingan.(*)


