Menlu Iran Ungkap Pemimpin Tertinggi Khamenei Masih Hidup
Teheran ; Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei masih hidup. Pernyataan itu disampaikan di tengah kondisi internet yang dilaporkan masih terganggu di sebagian besar wilayah Iran.
“Sejauh yang saya ketahui, beliau masih hidup,” kata Araghchi dikutip dari BBC, Sabtu, 28 Februari 2026.
Sejumlah media Iran sebelumnya membantah laporan yang menyebutkan beberapa pejabat tinggi dan komandan militer, termasuk presiden dan panglima angkatan darat, tewas dalam serangan.
Araghchi juga mengonfirmasi Iran menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan tersebut. Namun, ia menyebut langkah itu sebagai tindakan “membela diri”.
Di sisi lain, ia menegaskan bahwa Teheran terbuka untuk de-eskalasi dan negosiasi, dengan syarat Amerika Serikat dan Israel menghentikan serangan mereka.
“Jika Amerika ingin berbicara dengan kami, mereka tahu bagaimana cara menghubungi saya,” ucap Araghchi, meski mengakui saat ini belum ada komunikasi langsung yang berlangsung.
Pernyataan itu muncul hanya dua hari setelah putaran terbaru perundingan nuklir antara Iran dan Amerika Serikat digelar.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, meluncurkan operasi militer skala besar terhadap Iran. Langkah tersebut disebut sebagai salah satu eskalasi paling signifikan di Timur Tengah sejak invasi Irak 2003.
Dalam pidato nasional berdurasi sekitar delapan menit, Trump memberikan ultimatum kepada Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).
Ia menegaskan militer AS akan menargetkan infrastruktur pertahanan, kekuatan laut, serta kemampuan rudal Iran jika otoritas di Teheran tidak menyerah.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan dukungan penuh terhadap operasi tersebut. Ia menyebut keterlibatan Israel sebagai upaya menghapus “ancaman eksistensial” dari pemerintahan Iran.
Namun langkah Washington menuai kritik. Sejumlah pihak menilai operasi itu mengabaikan Piagam PBB dan dilakukan tanpa konsultasi mendalam dengan Kongres AS maupun publik.
Serangan ini juga terjadi hanya sekitar sepuluh hari setelah Trump meresmikan Board of Peace, badan yang sebelumnya dipromosikan sebagai forum resolusi konflik global.
Beberapa analis melihat kebijakan luar negeri yang agresif ini tidak terlepas dari dinamika politik domestik di Amerika Serikat. Mantan Menteri Perdagangan Wilbur Ross mengatakan Trump berada dalam posisi sulit.
“Saya rasa dia tidak bisa menerima kekalahan politik dan kemudian terlihat mundur dalam isu Iran,” tutur Wlibur.
Kekhawatiran serupa disampaikan Senator Demokrat Chuck Schumer, yang mempertanyakan stabilitas pengambilan keputusan di Gedung Putih di tengah tekanan politik menjelang pemilihan paruh waktu.
Hingga kini, situasi di kawasan Teluk tetap tegang. Operasi militer tersebut menjadi salah satu pertaruhan terbesar dalam masa jabatan Trump, yang sebelumnya berulang kali berjanji mengakhiri keterlibatan militer Amerika Serikat di luar negeri.(*)


