Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News
WEB UTAMA

Ramadan 2026, DPR Ingatkan Jangan Sekadar Ubah Jam Sekolah

Jakarta : Komisi X DPR RI menegaskan, Ramadan 2026 harus menjadi momentum melakukan evaluasi dan perbaikan pola pendidikan nasional. Khususnya, dalam aspek pembentukan karakter peserta didik di seluruh sekolah Indonesia.

Sejumlah anak-anak sedang membaca Al Quran di dalam masjid

Pernyataan tegas ini, diungkapkan oleh anggota Komisi X DPR RI, Andi Muawiyah Ramly (Amure). Ia mengatakan, penyesuaian pembelajaran selama Ramadan tidak boleh dimaknai sebatas pengurangan jam belajar.

“Ramadan jangan dipahami sebagai perubahan jadwal sekolah, ini momentum refleksi bersama untuk memperbaiki orientasi pendidikan kita. Yang selama ini terlalu menekankan aspek kognitif, tetapi kurang serius membangun karakter, etika, dan empati,” kata politikus PKB ini dalam keterangan persnya, di Jakarta, Senin 9 Februari 2026.

Ia menjelaskan, pola pendidikan selama Ramadan 2026 idealnya disusun dengan pendekatan yang lebih adaptif dan bermakna. Antara lain, melalui penyesuaian pembelajaran yang berorientasi nilai, penguatan pendidikan karakter, dan pembiasaan sikap dan keteladanan.

“Pendidikan itu bukan hanya soal apa yang diajarkan di kelas, tetapi apa yang dibiasakan. Ramadan memberi ruang yang sangat kuat untuk membangun pembiasaan baik jika dikelola dengan serius,” ucap Amure.

Kemudian, Amure menilai, sistem pendidikan pesantren dapat menjadi rujukan penting dalam penguatan karakter di sekolah formal. Sejauh ini, pesantren berhasil membangun karakter santri karena nilai-nilai pendidikan tidak hanya diajarkan, tetapi dihidupkan dalam keseharian.

"Pendidikan karakter di pesantren berjalan secara menyeluruh selama 24 jam. Sementara, sekolah formal masih cenderung membatasi pendidikan pada jam pelajaran," ujar Amure.

Sebelumnya, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) RI, Pratikno mengatakan, pemerintah menetapkan pengaturan pembelajaran di sekolah selama bulan Ramadan 2026. Pengaturan pembelajaran itu, menitikberatkan pada penguatan nilai keagamaan, pembentukan karakter, serta pemenuhan hak belajar peserta didik secara berimbang.

"Ramadan adalah momentum pendidikan karakter, karena itu pembelajaran kami arahkan untuk memperkuat nilai keagamaan. Sesuai agama dan keyakinan murid, sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial dan kebiasaan positif," ujar Pratikno dalam keterangan persnya, Minggu, 8 Februari 2026.

Pratikno menegaskan pembelajaran selama Ramadan tidak hanya diarahkan pada aspek akademik. Tetapi juga, menjadi momentum strategis untuk memperkuat iman, takwa, akhlak mulia, serta karakter sosial anak-anak Indonesia.

"Kami ingin anak-anak belajar empati, gotong royong, dan kepedulian sosial, Ramadan ramah anak harus diisi dengan aktivitas. Membangun karakter, termasuk Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, gerakan satu jam tanpa gawai, dan kegiatan positif lainnya," ucap Pratikno.

Adapun skema pembelajaran selama Ramadan 2026 yakni pembelajaran di luar satuan pendidikan pada 18 hingga 20 Februari 2026.

Pembelajaran tatap muka pada 23 Februari hingga 16 Maret 2026, serta libur pasca-Ramadan pada 23 hingga 27 Maret 2026.(*)

WEB UTAMA
Hide Ads Show Ads