Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Sentimen Pasar Kembali Negatif, Rupiah Ditutup Melemah

Jakarta : Sentimen negartif masih membayangi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sepanjang hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 0,14 persen atau 23 poin menjadi Rp16.776 per dolar AS dalam penutupan perdagangan hari ini.

Lembaran uang kertas rupiah nominal Rp100.000 emisi tahun 2022

Sentimen negatif itu antara lain disebabkan pernyataan Bank Dunia yang menyebutkan Indonesia sulit keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah. “Indonesia akan tetap dalam status negara ‘middle income trap’ jika tidak melakukan reformasi struktural yang lebih dalam,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Rabu 3 Februari 2026.

Mengutip Bank Dunia, Ibrahim mengatakan, reformasi lebih dalam harus dilakukan pada iklim usaha dan investasi. Pasalnya, masih terdapat sejumlah tantangan mendasar, terkait kualitas lingkungan usaha.

“Menurut Bank Dunia, pendorong pertumbuhan ekonomi ke depan harus semakin bersifat endogen. Berfokus pada produktivitas dan memperluas pasar melampaui batas domestik guna mempercepat pembangunan dan inovasi,” ujar Ibrahim.

Bank Dunia telah melakukan analisis data perusahaan dan big data di Indonesia. Hasilnya, produktivitas perusahaan di Indonesia ternyata tidak meningkat seiring dengan pertumbuhan skala usahanya

Tantangannya tidak hanya pada hambatan regulasi, tetapi juga pada penegakan kesetaraan kesempatan berusaha (level playing field) yang konsisten. Kondisi ini turut berdampak pada sektor keuangan, serta pasar jasa dan industri perngolahan.

Dari sisi eksternal, pelemahan rupiah tidak lepas dari pergerakan dolar AS yang cenderung menguat. Ketegangan antara AS dan Iran diwarnai laporan militer AS yang mengklaim menembak drone Iran karena mendekati kapal induk Abraham Lincoln.

“Pelaku pasar memantau perkembangan negosiasi antara AS dan Iran,” kata Ibrahim. Di sisi lain, pelaku pasar juga mencermati data manufaktur Amerika Serikat bulan Januari 2026.

Indeks Manajer Pembelian Manufaktur (PMI) Institute for Supply Management (ISM) melonjak menjadi 52,6 pada Januari 2026. Levelnya meningkat dari 47,9 pada Desember 2025.

Indeks manufaktur AS bulan Januari juga jauh melampaui ekspektasi pasar sebesar 48,5. Sementara PMI Manufaktur Global S&P sedikit meningkat menjadi 52,4 dari 51,9.

“Saat ini para pedagang menurunkan ekspektasi penurunan suku bunga The Fed. Pasar keuangan saat ini memperkirakan hampir 66 persen kemungkinan penurunan suku bunga berdasarkan perangkat CME FedWatch,” ujar Ibrahim menutup analisisnya.(*)

Hide Ads Show Ads