AS Perintahkan Evakuasi Staf di Timur Tengah
Riyadh ; Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menarik personel non-darurat dari Yordania, Bahrain, dan Irak menyusul eskalasi konflik antara Israel-AS melawan Iran.
![]() |
| Lokasi kantor stasiun TV Al-Manar,media yang berafiliasi dengan Hizbullah, di Beirut, Lebanon, mengeluarkan asap pasca serangan udara israel Selasa 3 Maret 2026. (Foto: AFP/Fadel Itani) |
Ketegangan di Timur Tengah memasuki fase kritis setelah Amerika Serikat menginstruksikan seluruh staf diplomatik non-darurat dan keluarga mereka untuk segera meninggalkan Yordania, Bahrain, dan Irak, di tengah gelombang balasan Iran terhadap serangkaian serangan udara yang dilancarkan oleh aliansi Amerika Serikat dan Israel.
Departemen Luar Negeri AS melalui saluran komunikasi resmi di platform X mengonfirmasi pembaruan peringatan perjalanan (travel advisory) bagi warga negaranya. Perintah evakuasi ini mencerminkan kekhawatiran mendalam Washington terhadap risiko keamanan yang meningkat di wilayah tersebut.
"Kami memerintahkan pegawai pemerintah AS non-darurat untuk meninggalkan Irak karena masalah keamanan yang mendesak," lapor Agence France-Presse mengutip pernyataan resmi kedaulatan Amerika Serikat, Selasa 3 Maret 2026.
Di Arab Saudi, Kedutaan Besar AS di Riyadh dilaporkan menghentikan operasional sementara setelah menjadi target serangan pesawat nirawak (drone).
Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengonfirmasi bahwa fasilitas diplomatik tersebut terkena dampak dua drone yang memicu kebakaran terbatas di area bangunan. Meski kepulauan asap hitam terlihat membubung di kawasan diplomatik, tidak ada laporan mengenai korban jiwa dalam insiden tersebut.
Situasi serupa terjadi di Bahrain. Garda Revolusi Iran (IRGC) melalui kantor berita Irna mengeklaim telah meluncurkan 20 drone dan tiga rudal ke arah pangkalan udara AS di wilayah Sheikh Isa.
Pihak Iran menyebut serangan fajar tersebut berhasil menghancurkan pusat komando utama pangkalan, meski hingga kini bukti fisik atas klaim tersebut masih dalam tahap verifikasi independen.
Netanyahu: Perang Bukan Tanpa Akhir
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan komitmennya untuk melanjutkan operasi militer terhadap Iran.
Dalam keterangannya kepada media internasional, Netanyahu mengisyaratkan bahwa perang ini tidak akan berlangsung selama bertahun-tahun, namun tetap memerlukan waktu untuk mencapai tujuan strategis.
"Saya katakan ini bisa berlangsung cepat dan menentukan. Ini mungkin memakan waktu, tapi tidak akan menjadi perang tanpa akhir," ujar Netanyahu dalam wawancara dengan program Fox News’ Hannity.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, memberikan pembenaran atas tindakan militer AS yang bersifat preemptif. Rubio menyatakan bahwa Washington memilih untuk menyerang lebih dulu demi meminimalkan korban di pihak sekutu setelah mendeteksi rencana serangan balasan Iran.
"Fase berikutnya akan jauh lebih berat bagi Iran daripada yang terjadi saat ini," tegas Rubio kepada para jurnalis.
Kekacauan Transportasi Udara
Eskalasi konflik ini telah melumpuhkan jalur penerbangan sipil di kawasan Teluk. Firma analitik penerbangan Cirium mencatat sedikitnya 11.000 penerbangan dari dan menuju Timur Tengah telah dibatalkan sejak akhir pekan lalu, yang berdampak pada lebih dari satu juta penumpang.
Meski maskapai besar seperti Etihad, Emirates, dan IndiGo mulai mengoperasikan penerbangan evakuasi terbatas untuk mengangkut warga negara asing yang terdampar, sebagian besar layanan komersial ke Bahrain, Kuwait, dan Qatar masih ditangguhkan hingga batas waktu yang belum ditentukan.(*)


