Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News
WEB UTAMA

Dolar AS Melemah, Rupiah Dibuka Menguat ke 16.879



Dolar AS Melemah, Rupiah Dibuka Menguat ke 16.879

Jakarta: Nilai tukar rupiah dibuka menguat pada perdagangan Selasa, 10 Maret 2026, seiring pelemahan dolar AS. Apresiasi mata uang Garuda terjadi di tengah sentimen global dan geopolitik yang masih membayangi pasar keuangan.

Berdasarkan data Bloomberg pukul, rupiah menguat 0,41% atau 70 poin ke posisi Rp16.879 per dolar AS, sementara indeks dolar AS melemah 0,34% ke level 98,84.

Sementara mengacu pada data Refinitiv, rupiah dibuka di Rp16.830/US$, terapresiasi 0,62% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada Senin, 9 Maret 2026, rupiah sempat tertekan hingga menyentuh Rp16.990/US$, mendekati level psikologis Rp17.000/US$. Meski demikian, mata uang Garuda berhasil memangkas pelemahan dan ditutup di Rp16.935/US$, atau terdepresiasi 0,21% secara harian.

Prediksi Pergerakan Rupiah

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memprediksi rupiah berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp16.950–Rp17.000/US$.

Menurutnya, sentimen utama yang memengaruhi rupiah saat ini berasal dari konflik geopolitik Amerika Serikat-Iran yang memicu kenaikan harga minyak dunia.

“Perkembangan konflik ini bisa menyulut harga minyak ke level tertinggi sejak awal perang Rusia-Ukraina 2022. Iran telah menunjuk Mojtaba Khamenei untuk menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi. Kontrol kelompok garis keras yang tetap dominan menunjukkan konflik belum akan mereda dalam waktu dekat,” jelas Ibrahim, dikutip Selasa, 10 Maret 2026.

Sentimen Global dan Domestik

Selain geopolitik, data ekonomi global juga memengaruhi pergerakan rupiah. Inflasi indeks harga konsumen China tercatat tumbuh 1,3% secara tahunan pada Februari 2026, lebih tinggi dari perkiraan 0,9% dan menjadi laju tercepat dalam tiga tahun terakhir.

Meski inflasi produsen masih mengalami kontraksi, pasar kini menunggu tanda kelanjutan tren inflasi setelah lonjakan permintaan selama liburan.

Di sisi domestik, sentimen pasar dipengaruhi kondisi fiskal nasional di tengah lonjakan harga minyak dunia. Saat ini harga minyak telah menyentuh US$ 92 per barel, tertinggi sejak 2020, jauh di atas asumsi makro APBN 2026 sebesar US$ 70 per barel.

“Lonjakan harga minyak ini akan menambah defisit APBN sekitar Rp6,8 triliun. Jika harga minyak terus naik mendekati atau melampaui US$ 100 per barel, dampaknya bisa signifikan, mendorong defisit APBN terhadap PDB hampir mencapai 4%,” kata Ibrahim.(*)

WEB UTAMA
Hide Ads Show Ads